Rabu, 20 April 2016

Tugas ke 2

- Asrida Farahmawati ( 1D514127 )     - Nabila Afifah     ( 17514710 )
- Citra Siti Aisyah       ( 12514445 )      - Rekha Amalia    ( 19514017 )
- Fitria Sari                  ( 14514342 )      - Rini Nurmawati ( 19514438 )
- Maula Yessa H.         ( 16514458 )      - Suri Indriyani     ( 1A514522 )

  1. Penyesuaian Diri dan Pertumbuhan

A.    Penyesuaian Diri
Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery):
1.      Penyesuaian berarti Adaptasi. Dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa “survise” dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
2.      Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai Konformitas. yang berarti menyesuaikan sesuatu sesuatu dengan standar atau prinsip.
3.      Penyesuaian dapat diartikan sebagai Penguasaan. yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon-respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frutasi-frutasi secara efisien
Menurut Schneiders (dalam Patosuwido, 1993) Penyesuain Diri merupakan kemampuan untuk mengatasi tekanan kebutuhan, frustrasi dan kemampuan untuk pengembangkan mekanisme psikologi yang tepat.
Sawrey dan Telford (dalam Colhoun & Acocella, 1990) mendefinisikan penyesuain diri sebagai interaksi terus menerus antara individu dengan lingkungannya yang melibatkan system behavioural, kognisi dan emosional. Dalam interaksi tersebut baik individu maupun lingkungan menjadi agen perubahan. Penyesuaian dapat didefinisikan sebagai interaksi yang kontinu dengan diri sendiri, dengan orang lain dan dengan dunia. Ketiga faktor ini secara konsisten mempengaruhi seseorang. Hubungan ini bersifat timbal balik (Calhooun & Acocella, 1990). Dari pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri adalah kemampuan individu dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidupnya, untuk mempertemukan tuntutan diri dan lingkungan agar tercapai keadaan atau tujuan yang diharapkan oleh diri sendiri dan lingkungannya.
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamik yang hampir selalu membutuhkan perubahan dan adaptasi, dan dengan demikian semakin tetap dan tidak merubah respons-respons itu, maka semakin sulit juga menangani tuntutan-tuntutan yang berubah. Kenyataan ini menjelaskan pengaruh-pengaruh yang menghancurkan kepribadian seseorang. Orang yang mengalami depresi karena sering kali merasa sulit menyesuaikan diri dengan pola tingkah laku yang di perlukan. Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment.
Penyesuaian diri yang dilakukan oleh seseorang akan berdampak juga pada pertumbuhan personalnya. Jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan sekitarnya apalagi di lingkungan baru, maka pertumbuhan personalnya juga akan mengalami peningkatan.
Menurut Fatimah (2006). Penyesuaian Diri memiliki dua aspek, yakni penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Penyesuaian Pribadi adalah kemampuan seseorang untuk menerima diri demi tercapainya hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungannya. Sedangkan Penyesuaian Sosial adalah kemampuan untuk mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku didalam masyarakat guna diterima dalam lingkungannya..
Penyesuaian diri yang positif menurut Supriyo (2008:91) adalah
·         Mampu memerima dan memahami diri baik kelebihan dan kekurangan.
·         Mampu menerima dan menilai kenyataan diluar dirinya secara objektif.
·         Mampu bertindak sesuai dengan potensi.
·         Memiliki perasaan aman yang memadai.
·         Rasa hormat dan mampu bertindak toleran kepada sesama.
·         Bersikap terbuka dan sanggup menerima umpan balik.
·         Memiliki kestabilan psikologis terutama kestabilan emosi.
·         Mampu bertindak sesuai norma yang berlaku, serta selaras dengan hak dan kewajibannya.

B.    Pertumbuhan Personal
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses-proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal yang sehat pada waktu yang normal.
Carl Rogers (1961) menyebutkan 3 aspek yang memfasilitasi pertumbuhan personal dalam suatu hubungan :
1.      Keikhlasan kemampuan untuk menyadari perasaan sendiri, atau menyadari kenyataan.
2.      Menghormati keterpisahan dari orang lain tanpa kecuali, dan 
3.      Keinginan yang terus menerus untuk memahami atau berempati terhadap orang lain.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan :
1.      Faktor biologis
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda setiap orang, kepribadian,  atau warisan biologis yang sangat kental.
2.      Faktor geografis
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi kepribadianseseorangdan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya pertumbuhan personal seseorang.
3.      Faktor budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap orang dengan kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga.

Selain itu, ada satu hal yang tidak kalah penting berkaitan dengan penyesuaian diri dan pertumbuhan personal adalah komunikasi. Dengan kemampuan komunikasi yang baik maka penyesuaian diri dan pertumbuhan personal seseorang juga akan berjalan baik.
 
Faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan individu:
1.      Faktor genetik
·         Faktor keturunan - masa konsepsi
·         Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
·    Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis  kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan psikologis seperti temperamen
·     Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
2.      Faktor eksternal / lingkungan
·       Mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat         menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan
·   Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya
Proff Gessel mengatakan bahwa pertumbuhan pribadi manusia berlangsung secara terus-menerus:
·         Penekanan pertumbuhan atau penyesuaian diri dan pertumbuhan
Penekanan pertumbuhan diri ini diartikan sebagai pertumbuhan sebagai bagian dari proses tumbuhnya manusia yang meliputi persiapan organ – organ yang menjadi bagian fungsional dalam tubuh manusia tersebut untuk dapat bekerja secara maksimal inilah yang menjadi titik fokus dalam proses penyesuaian diri sepanjang hayat manusia. Penyesuaian diri pada individu tidak akan terlepas dari bagaimana proses pertumbuhan diri yang terjadi pada individu itu sendiri. Oleh karena proses pertumbuhan diri yang terjadi pada individu yang satu dengan yang lain berbeda, sudah pasti penyesuaian diri yang dilakukan oleh masing – masing individu itu sendiri akan berbeda pula.
    
·   Variasi dalam pertumbuhan 
                Dalam pertumbuhan diri pada satu individu saja bisa terdapat variasi akibat dari permasalahan – permasalahan yang timbul dari berbagai kesulitan yang dirasakan oleh individu dalam proses pertumbuhannya itu sendiri. Hal ini jugalah yang menyebabkan munculnya variasi dalam penyesuaian diri individu untuk mengatasi dan menghadapi berbagai permasalahan yang ada dalam proses pertumbuhan tersebut.
·         Kondisi untuk bertumbuh
Faktor lainnya yang mempengaruhi proses penyesuaian diri individu, yaitu kondisi untuk bertumbuh dimana dapat dilihat dari jawaban atas pertanyaan yang dapat mewakilinya, seperti: Dimana dan seperti apa kondisi individu untuk bertumbuh. Lingkungan yang berbeda akan menimbulkan kondisi individu untuk bertumbuh yang berbeda pula, sehingga menyebabkan penyesuaian diri untuk kondisi lingkungan untuk bertumbuh itu juga akan berbeda.
·         Fenomenologi pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.”

2.   STRESS

    A.   Arti Penting Stress
Stress adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam, yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang” (Soeharto Heerdjan, 1987). Secara umum yang dimaksud dengan stress adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi , dan lain-lain.
Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005:481). Stres adalah rasa cemas atau terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi sebagai melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai.
Stress berbeda dengan stresor . Stresor adalah sesuatu yang menyebabkan stres. Stres itu sendiri adalah akibat dari interaksi timbal balik antara rangsangan lingkungan dan respons individu.
Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stress Psikologis, yaitu :
1)      FrustasiTimbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).
2)      Konflik. Timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance conflict, avoidance -avoidance conflict.
3)      Tekanan. Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu.
4)      Kecemasan. Kecemasan yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stress pada individu, misalnya kematian orang yang disayangi, kecelakaan dan penyakit yang harus segera operasi. Keadaan stress dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya frustasi, konflik dan tekanan.
    B.    Tipe - Tipe Stress Psikologi
Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stress Psikologis, yaitu :
1)      FrustasiTimbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).
2)      Konflik. Timbul karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam-macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance conflict, avoidance -avoidance conflict.
3)      Tekanan. Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu.
4)      Kecemasan. Kecemasan merupakan suatu kondisi individu merasakan kekhawatiran,kegelisahan,ketegangan,dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk
    C.    Symptom - Reducing Responses terhadap Stress
Sigmund Freud memperkenalkan istilah mekanisme pertahanan diri (defence mekanism). Mekanisme pertahanan diri adalah strategi yang tidak disadari untuk mengatasi emosi negatif. Strategi ini tidak mengurangi rasa stress melainkan memikirkan situasi yang sedang terjadi. Defence mechanism dilakukan secara tidak sadar. Kehidupan akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Individu yang mengalami stress tidak akan terus menerus merenungi kegagalan yang ia rasakan. Untuk itu setiap individu memiliki mekanisme pertahanan diri masing-masing dengan keunikannya masing-masing untuk mengurangi gejala-gejala stress yang ada.
   D.    Pendekatan “Problem Solving” terhadap Stress
Salah satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback. Melakukan sugesti untuk diri sendiri, juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (Mengarah kepada Tuhan). Untuk mengatasi stress adalah dengan cara keluar dan mencari tempat yang menyenangkan seperti tempat rekreaksi, Cara seperti ini akan membuat pikiran lebih tenang dan rileks sehingga bisa lebih leluasa dalam menentukan langkah dan mengambil opsi masalah.



 Daftar Pustaka
Sumber Buku:
Basuki,Heru.(2008). Psikologi Umum .Jakarta: Universitas Gunadarma
Semium, Yustinus.(2006). Kesehatan Mental 1. Kanisius: Jakarta

Sumber Internet:
 

0 komentar:

Posting Komentar