ᴥ Asrida Farahmawati ( 1D514127 ) ᴥ Nabila
Afifah ( 17514710 )
ᴥ Citra Siti Aisyah ( 12514445
) ᴥ Rekha Amalia ( 19514017 )
ᴥ Fitria Sari
( 14514342 ) ᴥ Rini Nurmawati ( 19514438 )
ᴥ Maula Yessa H. ( 16514458
) ᴥ Suri Indriyani (
1A514522 )
1. Pekerjaan dan Waktu Luang
A. Mengubah Sikap Terhadap Pekerjaan
Pekerjaan dinilai
sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk kemajuan manusia, baik kemajuan
rohani maupun jasmani. Pekerjaan memerlukan pemikiran yang sadar sehingga bisa
dengan bebas dapat mengarahkan kegiatannya kepada suatu tujuan tertentu. Dan
tujuan yang dicari dalam pekerjaan yaitu menjadikan pekerja menjadi lebih baik.
Baik disini maksudnya adalah menjadikan pekerja lebih terpenuhi kebutuhan
hidupnya dan keluarga, dan mereka menghindari aktivitas yang menjadikan mereka
buruk. Dan disini, atasan berperan penting dalam mengubah sikap karyawan mereka
agar dapat bekerja lebih keras dan mencapai kinerja pekerjaan yang lebih
tinggi. Karyawan diusahakan supaya menyukai pekerjaan yang ia dapatkan agar
dapat menghasilkan kinerja yang baik. Manager dalam mengubah sikap karyawan
juga harus memiliki kemampuan yang tepat, diberikanreward dan punishment kepada karyawan tersebut sehingga memunculkan sikap take and give
- Mendefinisikan Nilai Pekerjaan
Pandangan konservatif
menyatakan bahwa kerja jasmaniah itu adalah bentuk hukuman yang di timpakan
pada manusia sebagai akibat dari dosa-dosanya; sehingga orang yang berakal
sehat harus bekerja giat untuk mempertahankan eksistensi diri sendiri dan
keluarganya. Sehubungan dengan kondisi pekerjaan, di pikirkan untuk mengadakan
perbaikan-perbaikan terhadap kondisi-kondisi kerja yang mendorong orang untuk
menyukai pekerjaan. Pandangan
yang menyatakan bahwa kebanyakan orang tidak menyukai pekerjaan, sudah banyak
mengalami modifikasi pada zaman modern sekarang. Di akui bahwa banyak orang,
misalnya buruh profesional, para ahli, seniman-seniman dan juru-juru yang mempunyai
keahlian tinggi – bersungguh-sungguh mencintai pekerjaannya. Sedang insentif
dan satu-satunya motivasi kerjanya mungkin berupa “kesejahteraan umum” atau
rasa puas-bangga, atau aktivitas kerja itu sendiri.
- Menjelaskan Apa Yang Dicari Dalam Pekerjaan
• Menafkahi keluarga
• Mencari pengalaman
• Mengasah keahlian dan ketrampilan
• Mencari status untuk mengikat seseorang pada
individu lain serta masyarakat
• Mencari kesenangan dan arti tersendiri bagi
kehidupan seorang individu
- Fungsi Psikologis Dari Pekerjaan
Kerja mulai dipahami
sebagai tempat sosial dimana manusia menggunakan bakat-bakat yang dimiliki
untuk melayani sesama, tidak lagi semata-mata dalam rangka memenuhi kebutuhan
finansial keluarga. Manusia mulai sadar memiliki kebutuhan yang tidak bisa
dipenuhi secara mandiri sehingga dirasakan perlunya komunitas yang didalamnya
orang-orang saling bergantung. Setiap orang harus mempergunakan bakat yang
dimilkinya untuk melayani orang lain, demikian pula sebaliknya. Sehingga, secara
bersama-sama setiap orang membangun masyarakat sebagai suatu sistem yang saling
mendukung. Dengan konsep kerja seperti ini, kita kemudian
berpikir tentang dua hal mendasar bagaimana memilih suatu pekerjaan. Pertama,
pekerjaan dipilih berdasarkan minat dan bakat yang kita miliki. Meskipun
terdengar sederhana, namun faktanya menemukan minat dan bakat adalah suatu
proses yang sulit karena kita lahir tanpa membawa rincian tentang ketertarikan
dan kemampuan bawaan.
B. Proses dalam Memilih Pekerjaan
Seorang
individu membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup atau memenuhi kebutuhannya
sehari-hari. Biasanya mereka memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan
keahlian yang mereka miliki. Dalam memilih pekerjaan manusia akan mau dan mampu
untuk bekerja dengan baik bilamana ia ditempatkan pada posisi dengan jabatan
yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta bila mana ia bisa memenuhi
kebutuhannya dengan melakukan pekerjaan itu. lni berarti bahwa perusahaan harus
bisa menempatkan orang pada jabatan-jabatan yang sesuai dengan minat dan
kemampuannya, dengan tidak lupa mempertimbangkan upaya pemenuhan kebutuhannya.
Sebelum di tempatkan pada posisi yang sesuai dengan minat dan kemampuanya, para
calon tenaga kerja biasanya terlebih dahulu mengikuti seleksi yang diadakan
oleh pihak perusahaan yang bertujuan untuk mencari calon tenaga kerja yang
memang benar-benar menguasai keahlian didalam bidang yang dicari oleh pihak
perusahaan. Ada enam tahapan yang harus di jalani oleh seorang calon tenaga
kerja antara lain sebagai berikut :
1. Tahap penyerahan surat lamaran
1. Tahap penyerahan surat lamaran
2. Tahap wawancara awal
3. Tahap ujian psikotes (wawancara)
4. Tahap penilaian akhir
5. Tahap pemberitahuan wawancara akhir.
6. Tahap penerimaan
C. Memilih
Pekerjaan yang Cocok
Hubungan antara Karakteristik Pribadi dan Pekerjaan dalam Memilih Pekerjaan
yang Cocok
*Kepribadian Artistik
Karakter: kreatif, imajinasi yang tak pernah
berhenti, suka mengekspresikan diri, suka bekerja tanpa aturan, menikmati
pekerjaan yang berkaitan dengan design/warna/kata-kata. Orang artistik
merupakan pemecah masalah yang sangat hebat karena mereka menggabungkan pola
pikir intuisi dan pendekatan rasional.
Pekerjaan yang cocok: editor, grafik desainer, guru drama,
arsitek, produser, ahli kecantikan, model, pemain film, sutradara, interior
desain.
*Kepribadian Konvensional
Karakter: menyukai aturan, prosedur yang rapi,
teliti, tepat waktu, suka bekerja dengan rincian data, tertib, cenderung
pendiam dan lebih hati-hati.
Pekerjaan yang cocok: akuntan, petugas asuransi, penegak
hukum, pengacara, penulis, penerjemah.
*Kepribadian Aktif
Karakter: gigih, berani, suka berkompetisi,
penuh semangat, pekerja keras, ekstrovet, enerjik, dan progresif.
Pekerjaan yang cocok: wiraswasta, direktur program,
manajer.
*Kepribadian Investigasi
Karakter: analitis, intelektual, ilmiah,
menyukai misteri, sangat memperhatikan detail, lebih suka bekerja secara
individu, menggunakan logika.
Pekerjaan yang cocok: analisis sistem komputer,
programmer, dosen, profesor, statistik, dokter.
*Kepribadian Realistis
Karakter: realistis, praktis, simpel, bekerja
di luar ruangan, berorientasi pada masalah dan solusinya, suka bekerja dengan
objek yang kongkrit, pekerjaan yang menggunakan alat bantu atau mesin. Pekerjaan
yang cocok: tukang listrik, dokter gigi, insinyur.
*Kepribadian Sosial
Karakter: suka membantu orang lain, dapat
berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, sabar, murah hati, memiliki
empati, memusatkan diri dengan interaksi manusia, suka berbicara.
D. Penyesuaian
Diri dalam Pekerjaan
Penyesuaian diri adalah suatu usaha individu untuk dapat merubah
dirinya ketika mereka berada di lingkungan keluarga, sekolah dan di masyarakat
yang dapat ditunjukkan melalui aktifitas-aktifitas seperti: dapat menguasai
lingkungan dimana individu berada, penuh percaya diri, bersedia menerima teman
dalam kelompok, bersedia mengatasi masalah, dan bersedia merencanakan sesuatu
dengan pikiran.
Pada dasarnya, penyesuaian diri memiliki dua aspek, yaitu penyesuaian
pribadi dan penyesuaian sosial.
1.
Penyesuaian Pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya
sendiri sehingga tercapainya hubungan yang harmonis antara siapa dirinya dengan
lingkungan kerjanya. Ia sadar sepenuhnya siapa dirinya, apa kelebihan dan
kekurangannya dan bertindak objektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.
Keberhasilan diri pribadi dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan
atau tanggungjawab, kecewa atau tak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan
kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang
menyertai rasa bersalah, rasa tidak puas, rasa cemas, rasa kurang dan keluhan
terhadap nasib yang dialaminya.
2.
Penyesuaian Sosial
Setiap individu hidup dalam masyarakat, dimana terdapat proses saling
mempengaruhi satu sama lain. Dari proses tersebut timbul pola kebudayaan dan
tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang
mereka patuhi, demi untuk mencapai penyesuaian bagi persoalan-persoalan hidup
sehari-hari.
Dalam dunia kerja ada 2 hal yang tidak bisa dipisahkan yaitu karyawan dan
perusahaan. Seseorang yang dapat menyesuaikan dirinya dengan pekerjaannya yaitu
apabila terdapat adanya kepuasan kerja.
ᴥ faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, diantaranya adalah
kesesuaian pekerjaan, kebijakan organisasi termasuk kesempatan berkembang,
lingkungan kerja dan perilaku atasan. faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan
menurut Kreitner dan Kinichi, yaitu:
a.
Pemenuhan Kebutuhan (need fulfillment)
pekerjakaan memberikan kesempatan pada individu intuk memenuhi
kebutuhannya.
b.
Perbedaan (discrepancies)
Kepuasan merupakan suatu hasil memenuhi harapan. Pemenuhan harapan
mencerminkan perbedaan antara apa yang diharapkan dan apa yang diperoleh
individu dari pekerjaannya.
c.
Pencapaian nilai (volue attainment)
Kepuasan hasil dari persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja
individual.
d.
Keadilan (equity)
Kepuasan merupakan fungsi dari seberapa adil individu diperlakukan di
tempat kerja.
e.
Komponan genetik (genetic components)
Kepuasan kerja merupakan fungsi sifat pribadi dan faktor genetik. perbedaan
sifat individu kerja disamping karakteristik lingkungan pekerjaan.
E. Waktu Luang
Definisi Waktu Luang Dalam bahasa
Inggris waktu luang dikenal dengan sebutan leisure. Kata leisure sendiri
berasal dari bahasa Latin yaitu licere yang berarti diizinkan (To be Permited)
atau menjadi bebas (To be Free). Kata lain dari leisure adalah loisir yang
berasal dari bahasa Perancis yang artinya waktu luang (Free Time), George
Torkildsen (Januarius Anggoa, 2011).
Berdasarkan teori dari George Torkildsen
dalam bukunya yang berjudul leisure and recreation management (Januarius Anggoa,
2011) definisi berkaitan dengan leisure antara lain :
a 1. Waktu
luang sebagai waktu (leisure as time)
Waktu
luang digambarkan sebagai waktu senggang setelah segala kebutuhan yang mudah
telah dilakukan. Yang mana ada waktu lebih yang dimiliki untuk melakukan segala
hal sesuai dengan keinginan yang bersifat positif. Pernyataan ini didukung oleh
Brightbill yang beranggapan bahwa waktu luang erat kaitannya dengan kaitannya
dengan kategori discretionary time, yaitu waktu yang digunakan menurut
pemilihan dan penilaian kita sendiri.
2. Waktu
luang sebagai aktivitas (leisure as activity)
Waktu luang terbentuk dari segala kegiatan bersifat
mengajar dan menghibur pernyataan ini didasarkan pada pengakuan dari pihak The
International Group of the Social Science of Leisure, menyatakan bahwa: “ waktu
luang berisikan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti
keinginannya sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah
pengetahuan atau mengembangkan keterampilannya secara objektif atau untuk
meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat.”
3. Waktu
luang sebagai suasana hati atau mental yang positif (leisure as an end in
itself or a state of being)
Pieper beranggapan bahwa:“Waktu luang harus
dimengerti sebagai hal yang berhubungan dengan kejiwaan dan sikap yang
berhubungan dengan hal-hal keagamaan, hal ini bukan dikarenakan oleh
faktor-faktor yang datang dari luar. Hal ini juga bukan merupakan hasil dari
waktu senggang, liburan, akhir pekan, atau liburan panjang.
4. Waktu
luang sebagai sesuatu yang memiliki arti luas (leisure as an all embracing)
Menurut Dumadezirer, waktu luang adalah relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Dalam ketiga aspek tersebut, mereka akan menemukan kesembuhan dari rasa lelah, pelepasan dari rasa bosan, dan kebebasan dari hal-hal yang bersifat menghasilkan. Dengan kata lain, waktu luang merupakan ekspresi dari seluruh aspirasi manusia dalam mencari kebahagiaan, berhubungan dengan tugas baru, etnik baru, kebijakan baru, dan kebudayaan baru. kebudayaan baru.
Menurut Dumadezirer, waktu luang adalah relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Dalam ketiga aspek tersebut, mereka akan menemukan kesembuhan dari rasa lelah, pelepasan dari rasa bosan, dan kebebasan dari hal-hal yang bersifat menghasilkan. Dengan kata lain, waktu luang merupakan ekspresi dari seluruh aspirasi manusia dalam mencari kebahagiaan, berhubungan dengan tugas baru, etnik baru, kebijakan baru, dan kebudayaan baru. kebudayaan baru.
5. Waktu
luang sebagai suatu cara untuk hidup (leisure as a way of living)
Seperti yang dijelaskan oleh Goodale dan Godbye dalam buku The Evolution Of Leisure: “Waktu luang adalah suatu kehidupan yang bebas dari tekanan-tekanan yang berasal dari luar kebudayaan seseorang dan lingkungannya sehingga mampu untuk bertindak sesuai rasa kasih yang tak terelakkan yang bersifat menyenangkan, pantas, dan menyediakan sebuah dasar keyakinan”.
Seperti yang dijelaskan oleh Goodale dan Godbye dalam buku The Evolution Of Leisure: “Waktu luang adalah suatu kehidupan yang bebas dari tekanan-tekanan yang berasal dari luar kebudayaan seseorang dan lingkungannya sehingga mampu untuk bertindak sesuai rasa kasih yang tak terelakkan yang bersifat menyenangkan, pantas, dan menyediakan sebuah dasar keyakinan”.
Hal senada juga diungkapkan oleh
Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yang melihat arti istilah waktu luang
dari 3 dimensi, yaitu:
1. Dilihat
dari dimensi waktu, waktu luang dilihat sebagai waktu yang tidak digunakan
untuk bekerja mencari nafkah, melaksanakan kewajiban, dan mempertahankan hidup.
2. Dari
segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat diisi dengan kegiatan
pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka hati.
3. Dari
sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana
mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang
mengalami gangguan emosi, sebagai selingan hiburan, sarana rekreasi, sebagai
kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan
menghindari sesuatu.
Dengan banyaknya definisi waktu luang,
dapat disimpulkan bahwa waktu luang adalah waktu yang mempunyai posisi bebas
penggunaannya dan 13 waktu tersebut berada diluar kegiatan rutin sehari-hari
sehingga dapat dimanfaatkan secara positif guna meningkatkan produktifitas
hidup yang efektif dan pengisian waktu luang dapat diisi dengan berbagai macam
kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti keinginannya sendiri baik untuk
beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan atau mengembangkan
keterampilannya secara objektif.
Hal-hal yang perlu di pertimbangkan
dalam memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang ialah :
a. Waktu
b. Tuntutan
sosial. Ini berasal dari keinginan keluarga, teman, kelompok, adat istiadat,
norma lingkungan, lingkungan kerja, lingkungan sosial lainnya.
c. Dukungan
dana
d. Pengalaman
masa lampau
e. Tersedianya
atau ditawarkannya berbagai pilihan kegiatan
f. Tersedianya
lahan
g. Kemampuan
h. Kebutuhan
psikologis masing-masing pelaku
i. Falsafah
dan nilai yang dimiliki
j. Pengaruh
lingkungan fisik maupun budaya setempat
k. Sikap
masyarakat dan budaya terhadap kegiatan-kegiatann tertentu
2. Self-Directed
Changes
A. Konsep
dan Pengertian Self-Directed Changes
Menurut
Gibbons (2002), self directed learning adalah peningkatan
pengetahuan, keahlian, prestasi, dan mengembangkan diri dimana individu
menggunakan banyak metode dalam banyak situasi dalam setiap waktu. Self
directed learning diperlukan karena dapat memberikan siswa kemampuan
untuk mengerjakan tugas, untuk mengkombinasikan perkembangan kemampuan dengan
perkembangan karakter dan mempersiapkan siswa untuk mempelajari seluruh
kehidupan mereka. Self directed learning meliputi bagaimana
siswa belajar setiap harinya, bagaimana siswa dapat menyesuaikan diri dengan
keadaan yang cepat berubah, dan bagaimana siswa dapat mengambil inisiatif
sendiri ketika suatu kesempatan tidak terjadi atau tidak muncul.
Knowles
(dalam Jennings, 1975) menambahkan bahwa self directed learningadalah
sebuah proses dimana sebuah dimana individu mengambil inisiatif, dengan atau
tanpa bantuan orang lain, dan proses dalam self-directed learningini
dilakukan dengan menyadari kebutuhan sendiri dalam belajar, mengatur tujuan
pribadi, membuat keputusan pada sumber dan strategi belajar dan menilai hasil.
Menurut
Long (dalam Bath & Kamath, 2005) self directed learning adalah
proses mental yang biasanya disertai dan didukung dengan aktivitas perilaku
yang meliputi identifikasi dan pencarian informasi. Dalam self directed
learning, pelajar secara sengaja menerima tanggung jawab untuk membuat
keputusan tentang tujuan dan usaha mereka sehingga mereka sendiri yang menjadi
agen perubahan dalam belajar.
Teori
Guglielmino (dalam Shiong,dkk, 1977) mengemukakan bahwa self directed
learning dapat terjadi dalam banyak situasi yang bervariasi, mulai
dari ruangan kelas yang berfokus pada guru secara langsung (teacher
directed) menjadi belajar dengan perencanaan siswa sendiri (self
planned) dan dilakukan sendiri (self conducted). Guglielmino
(1977) lebih lanjut menyatakan tentang karakteristik yang dimiliki oleh
pelajar, yakni sikap, nilai, kepercayaan, dan kemampuan yang akhirnya
menentukan apakah self directed learning terjadi pada suatu
situasi belajar.
Dari
beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa self directed
learning adalah peningkatan pengetahuan, keahlian, prestasi, dan
pengembangkan diri individu yang diawali dengan inisiatif sendiri dengan
belajar perencanaan belajar sendiri (self planned) dan
dilakukan sendiri (self conducted), menyadari kebutuhan belajar,
tujuan belajar, membuat strategi belajar, menilai hasil belajar, serta memiliki
tanggung jawab sendiri menjadi agen perubahan dalam belajar.
ᴥ Self Directed Change mempunyai tahapan terapan sebagai
berikut:
1. Meningkatkan Kontrol Diri:
Definisi kontrol diri atau self control adalah kemampuan
individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan untuk menekan
atau menghambat dorongan yang ada. Goldfried dan Merbaum, mendefinisikan
kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan
mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif.
Artinya individu harus dapat bisa meningkatkan kontrol diri agar dapat menuju
konsenkuensi positif yang didalam ini adalah kondisi actual step.
2. Menetapkan Tujuan
Tujuan sangat penting untuk menambah motivasi untuk berubah,
dengan adanya tujuan kita dapat mengetahui langkah-langkah yang harus disusun
untuk menuju tujuan tersebut, tapi yang terpenting kita harus mempunyai tujuan
terlebih dahulu. Tujuan terbersar bisa didukung juga dengan target-target kecil
yang sebenarnya mendukung untuk menuju tujuan terbesar.
3. Pencatatan Perilaku
Begitu tujuan sudah ditetapkan hal berikutnya adalah
menyusun langkahnya. Langkah awal adalah pencatatan perilaku. Di sini perilaku
yang baik dan buruk perlu dicatatat. Perilaku buruk yang dicatatat adalah
perilaku yang perlu dirubah untuk mencapai kondisi ideal. Sedangkan perilaku
yang baik juga perlu dicatatat agar dapat mengetahui apakah dalam diri individu
terdapat perilaku yang mendukung untuk menuju kondisi ideal, bila ada perilaku
itu perlu dipertahankan.
4.
Menyaring
Anteseden Perilaku
Individu harus menuliskan perilaku
yang ingin dirubah, dari sana individu akan dapat melihat konsenkuensi dan
kerugian yang ada. Dari sini dapat menuju tahap berikutnya
5. Menyusun Konsenkuensi yang Efektif
Setelah kita sudah memulai mengontrol beberapa kondisi yang
memicu perilaku atau kebiasaan kita. Meningkatkan pengendalian diri, maka
terdiri dari mengatur konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain
menerima perilaku yang kita yang sudah berubah. Perlu diingat juga saat kita
merubah perilaku banyak konsekuensi yang harus dipikirkan, konsenkuensi
terhadap diri sendiri maupun orang lain.
6. Menerapkan Rencana Intervensi
Ketika kita sudah menyusun hal-hal diatas, artinya
selanjutnya adalah merancang tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk
melakukan perubahan. Apa saja yang harus dibuat, dan kondisi apa saja yang
harus dibuat untuk melakukan tahapan-tahapan perubahan perilaku. Kemudian
jalankan semuanya.
Sumber:
Keith, Davis, Jhon W.
Newstrom, 1995. Perilaku Dalam Organisasi, Edisi Ketujuh,Erlangga, Jakarta
Prabowo, Hendro. B.P.
Dwi Riyanti.1998.Psikologi Umum 2.Jakarta: GunadarmaR. Tickle, Naomi.2012.Cara
Cepat Membaca Wajah.Jakarta: Ufuk PressSAP Kesehatan Mental 2012.
Atwater, E., 1983,
Psychology of Adjustment, Personal Growth in a Changing Worls, 2nd Ed.,
Prentice Hall, New Jersey
Schultz, D., 1983,
Psikologi Pertumbuhan, Model-Model kepribadian yang Sehat, Kanisius, Yogyakarta
