Tugas
Ke-2
Nama : Citra Siti Aisyah (12514445)
Kelas : 3PA17
Nama : Citra Siti Aisyah (12514445)
Kelas : 3PA17
A. Pengorganisasian
Struktur Manajemen
1. Pengertian Struktur Organisasi
Pengorganisasian merupakan salah satu fungsi
dasar dalam manajemen untuk mencapai sasaran yang ditetapkan oleh Organisasi.
Pengorganisasian ini berkaitan dengan pengelompokan kegiatan, pengaturan orang
maupun sumber daya lainnya dan mendelegasikannya kepada individu ataupun unit
tertentu untuk menjalankannya sehingga diperlukan penyusunan struktur
organisasi yang memperjelas fungsi-fungsi setiap bagian dan sifat hubungan
antara bagian-bagian tersebut.
Secara definisi, yang dimaksud dengan Struktur Organisasi menurut Schermerhorn (1996) adalah sistem
tugas, alur kerja, hubungan pelaporan dan saluran komunikasi yang dikaitkan
secara bersama dalam pekerjaan individual maupun kelompok. Struktur
Organisasi dalam sebuah organisasi biasanya digambarkan dalam bentuk Bagan
Struktur Organisasi (Organization Chart) yaitu suatu diagram yang menggambarkan
pengaturan posisi pekerjaan dalam Organisasi yang diantaranya juga termasuk
garis komunikasi dan wewenangnya.
2. Fungsi dari Manajemen
Fungsi-fungsi Manajemen terdiri
atas :
1.
Perencanaan
(planning),
2.
Pengorganisasian
(organizing)
3.
Pengarahan
(directing)
4.
Pengkoordinasian
(coordinating)
5.
Pengawasan
(controlling)
a. Perencanaan
Pengertian Perencanaan adalah
sebagai hasil pemikiran yang mengarah ke masa depan, yaitu menyangkut
serangkaian tindakan yang berdasarkan pemahaman yang mendalam terhadap semua
faktor yang terlibat dan yang diarahkan kepada sasaran khusus. Dengan kata lain,
perencanaan ialah penentuan serangakaian tindakan berdasarkan pemilihan dari
berbagai alternatif data yang ada, dalam hal ini dirumuskan dalam bentuk
keputusan yang akan dikerjakan untuk masa yang akan datang dalam usaha mencapai
tujuan yang diinginkan.
b. Pengorganisasian
Setelah perencanaan, langkah
berikutnya adalah menciptakan organisasi untuk melaksanakan rencana yang telah
dirumuskan. Organisasi pada hakikatnya mempunya tiga komponen, yaitu fungsi,
personalia dan faktor-faktor sarana fisik. Proses organisasi berusaha
mempersiapkan ketiga komponen tersebut sedemikian rupa agar dapat memperlancar
pencapaian tujuan perusahaan. Dengan demikian, pengorganisasian didefinisikan
sebagai suatu proses menciptakan hubungan antara personalia, fungsi-fungsi dan
faktor fisik agar kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan disatukan dan
diarahkan pada pencapaian tujuan bersama.
c. Pengarahan
Langkah selanjutnya yaitu
pengarahan, fungsi pengarahan ini ialah gerak pelaksanaan dari
kegiatan-kegiatan fungsi perencanaan dan pegorganisasian. Pengarahan dapat
diartikan sebagai suatu aspek hubungan manusiawi dalam kepemimpinan yang
mengikat bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan pikiran dan
tenaganya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berarti ruang lingkup pengarahan pengelolaan sumber daya manusia yang efektif
dan efisien.
d. Pengoordinasian
Koordinasi merupakan daya upaya
untuk mensinkronkan dan menyatukan tindakan-tindakan sekelompok manusia.
Koordinasi merupakan otak di dalam batang tubuh dari keahlian manajemen. Jika
manajer menemukan kesulitan dalam koordinasi yang berkelanjutan, ia harus
mencurigai kelemahan program perencanaan, pengorganisasian dan pengarahan.
Pendek kata, koordinasi merupakan bidang keahlian dari manajemen. Perintah yang
baik dan lazim dari bidang keahlian manajemen lainnya akan membuat koordinasi
tidak begitu dibutuhkan. Akan tetapi, pada organisasi yang dikelola dengan baik
sekalipun, ada juga bidang yang memerlukan koordinasi.
e. Pengawasan
Pengertian Pengawasan adalah
sebagai suatu kegiatan mendeterminasi apa-apa yang telah dilaksanakan sesuai
dengan tujuan untuk segera mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan dan
hambatan, sekaligus mengadakan koreksi untuk memperlancar tercapainya tujuan.
Fungsi ini dapat menjamin bahwa kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dapat
memberikan hasil yang diinginkan.
3. Manfaat Struktur Fungsional dan
Difisional
a. Struktur Fungsional :
Struktur Organisasi Fungsional (Functional Structure
Organization) merupakan Struktur Organisasi yang paling umum digunakan oleh
suatu organisasi. Pembagian kerja dalam bentuk Struktur Organisasi Fungsional
ini dilakukan berdasarkan fungsi manajemennya seperti Keuangan, Produksi,
Pemasaran dan Sumber daya Manusia. Karyawan-karyawan yang memiliki keterampilan
(skill) dan tugas yang sama akan dikelompokan bersama kedalam satu unit kerja.
Struktur Organisasi ini tepat untuk diterapkan pada Organisasi atau Perusahaan
yang hanya menghasilkan beberapa jenis produk maupun layanan. Struktur
organisasi bentuk ini dapat menekan biaya operasional namun mengalami kesulitan
dalam berkomunikasi antar unit kerja.
Contoh Struktur Organisasi
Fungsional
b. Struktur
Divisional :
Struktur Organisasi Divisional (Divisional Structure
Organization) adalah Struktur Organisasi yang dikelompokkan berdasarkan
kesamaan produk, layanan, pasar dan letak geografis. Organisasi bentuk
Divisional ini biasanya diterapkan di perusahaan yang berskala menengah
keatas,hal ini dikarenakan biaya operasional akan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan bentuk Organisasi Fungsional.


4.
Kerugian
Struktur Fungsional dan Divisional
Struktur Fungsional
kurangnya komunikasi dan koordinasi
antara fungsi – fungsi, keputusan – keputusan yang selalu mengacu pada tingkat
hierarki, hilangnya tanggung jawab yang jelas terhadap produk atau pelayanan
pengiriman serta inovasi yang lambat dalam menjawab perubahan lingkungan. Salah
satu kerugian yang serius dari struktur ini terjadi saat anggota departemen
fungsional mempunyai spesialisasi yang berlebihan dan segala sesuatu dipusatkan
pada departemennya. Hal ini akan mengakibatkan sudut pandang yang sempit dan
kehilangan pandangan terhadap sistem secara total. Kegagalan dalam
berkomunikasi dan dukungan perluasan antar departemen merupakan hal yang biasa
terjadi dalam situasi ini. Hal ini memperlambat pembuatan keputusan saat
persoalan harus diselesaikan menurut tingkatan hierarki. Organisasi yang
mengalami masalah structural seperti itu dapat mrnjurus pada kesalahan yang
lebih fatal dalam persaingan di pasar.
Struktur Divisional
dapat menurunkan skala ekonomi,
menyebarkan persaingan teknik dan keahlian, juga menciptakan persaingan yang
tidak sehat antara unit – unit operasional. Struktur ini juga dapat
meningkatkan biaya melalui penggandaan sumber daya dan usaha – usaha antar
divisi dan mengarah pada penekanan yang berlebihan melawan tujuan – tujuan
organisasi.
Pembabatan hutan adat di Kalimantan
Tengah terus berlangsung seperti terjadi di kawasan hutan Tamanggung Dahiang di
Desa Tumbang Dahui, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan pada bulan awal
Nopember 2002. Kejadian ini sebenarnya telah diketahui oleh seorang tokoh desa
bernama Salin R. Ahad yang kemudian permasalahan ini dilaporkan ke Polda,
Kejaksaan Tinggi, dan DPRD Propinsi Kalteng yang dianggap menginjak-injak harga
diri masyarakat adat dan hukum-hukum adat setempat. Kemudian tokoh desa itu
juga mengungkapkan keterlibatan oknum-oknum BPD (Badan Perwakilan Desa) yang
ikut membekingi dan melakukan pembabatan hutan adat tersebut.
Kejadian yang hampir sama terjadi
pada pertengahan bulan Juni 2002. 189 warga desa di wilayah Kecamatan Gunung
Purei, Kabupaten Barito Utara menuntut HPH PT. Indexim dan PT. Sindo Lumber
telah melakukan pembabatan hutan di kawasan Gunung Lumut. Kawasan hutan lindung
Gunung Lumut di desa Muara Mea itu oleh masyarakat setempat dijadikan kawasan
ritual sekaligus sebagai hutan adat bagi masyarakat dayak setempat yang
mayoritas pemeluk Kaharingan. Sebelum kejadian ini telah diadakan pertemuan
antara masyarakat adat dan HPH-HPH tersebut.
Namun setelah sekian lama ternyata
isi kesepakatan tersebut telah diubah oleh HPH-HPH itu dan ini terbukti bahwa
perwakilan-perwakilan masyarakat adat dengan tegas menolak dan tidak mengakui
isi dari kesepakatan itu.
Selain itu, konflik yang terjadi
antara mayarakat desa Tumbang Dahui denga perusahaan PT.Indexin dan PT.Sindo
Lumber disebabkan dengan hal-hal seperti berikut:
1. Masalah
tata batas yang tidak jelas dari 2 belah pihak
2. Pelanggaran
adat yang disebabkan perusahaan tersebut
3. Ketidakadilan
aparat hukum dalam menyelsaikan persoalan
4. Hancurnya
penyokong antara masyarakat adat dan masyarakat hutan akibat rusak dan
sempitnya hutan
5. Tidak
ada kontribusi positif pengelola hutan dengan masyarakat adat dan masyarakat di
sekitar hutan.
6. Perusahaan
tidak melibatkan masyarakat adat dan masyarakat disekitar hutan dalam
pengusahaan hutan.
Saran
dalam Struktur Fungsional
Seharusnya,aparat keamanan yang
bertugas melindungi masyarakat bisa menindak lanjuti kedua perusahaan
tersebut,karena perusahaan PT.Indexin dan PT.Sindo Lumber telah melanggar
tentang pengelolaan hutan.Kedua perusahaan tersebt telah membabat habis hutan
di kawasan gunung lumut tersebut, apalagi hutan tersebut merupakan hutan
lindung. Selain itu aparat kemanan juga dapat menangkap oknum BPD tersebut,
karena oknum tersebut terlibat langsung dalam kerjasama dengan kedua perusahaan
tersebut. Oknum ini harusnya menghalangi tindakan kedua perusahaan tersebut
dalam pembabatan hutan.
Saran
dalan Struktur Divisional
Agar menghindari konflik dengan
masyarakat sekitar,perusahaan juga seharusnya bersikap baik dalam lingkumgan
sekitar.Seperti tidak melakukan pembabatan hutan lindung. Lalu jika melakukan
penebangan pohon di hutan, harus melakukan reboisasi(penanaman ulang pohon).
Hormat kepada masyarakat sekitar dan adat dan berlaku, karena masyarakat
Kalimantan terkenal dengan adatnya yang harus di jaga secara turun menurun.
Jika hal itu dilakukan oleh perusahaan, mungkin tidak ada yang namanya konflik
eksetrnal.
B.
Actuating
dalam Manajemen
1.
Pengertian
di dalam bahasa
Inggris, ada lima istilah yang artinya hampir sama tetapi maknanya berbeda
untuk pengertian “ menggerakkan orang lain” seperti dijelaskan berikut ini.
1. Directing,
yakni menggerakkan orang-orang lain dengan memberikan berbagai pengarahan.
2. Actuating,
yakni menggerakkan orang lain dalam arti umum
3. Leading,
yakni menggerakkan orang lain dengan cara menempatkan diri di muka orang-orang
yang digerakkan, membawa mereka ke suatu tujuan tertentu serta memberikan
contoh-contoh.
4. Commanding,
yakni menggerakkan orang lain disertai unsure paksaan.
5. Motivating,
yakni menggerakkan orang lain dengan terlebih dahulu memberikan alasan-alasan
mengapa hal itu harus dikerjakan.
George R. Terry (1986)mengemukakan bahwa actuating merupakan usaha menggerakkan
anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan
berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota
perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai
sasaran-sasaran tersebut. Dari pengertian di atas, pelaksanaan (actuating)
tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan,
dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat
melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung
jawabnya.
2.
Pentingnya
Actuating dalam Manajemen
Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan
langsung dengan orang-orang dalam organisasi.Perencanaan dan pengorganisasian
yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi
sumber daya manusia dan non-manusia pada pelaksanaan tugas.Semua sumber daya manusia
yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja
organisasi.Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi, peran,
keahlian, dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan
program kerja organisasi yang telah ditetapkan.
3.
Prinsip
dari Actuating
Menurut Kurniawan
(2009) prinsip-prinsip dalam penggerakan atau actuating antara lain :
1. Memperlakukan
pegawai dengan sebaik-baiknya
2. Mendorong
pertumbuhan dan perkembangan manusia
3. Menanamkan
pada manusia keinginan untuk melebihi
4. Menghargai
hasil yang baik dan sempurna
5. Mengusahakan
adanya keadilan tanpa pilih kasih
6. Memberikan
kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
pengarahan
yang dilakukan oleh pimpinan harus berpegang pada beberapa prinsip, yaitu:
1. Prinsip
mengarah pada tujuan
Tujuan
pokok dari pengarahan nampak pada prinsip yang menyatakan bahwa makin
efektifnya proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan terhadap
usaha mencapai tujuan. Pengarahan tidak dapat berdiri sendiri,artinya dalam
melaksanakan fungsi pengarahan perlu mendapatkan dukungan/bantuan dari
factor-faktor lain seperti :perencanaan, struktur organisasi, tenaga kerja yang
cukup, pengawasan yang efektif dan kemampuan untuk meningkatkan pengetahuan
serta kemampuan bawahan.
2. Prinsip
keharmonisan dengan tujuan
Orang-orang
bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhannya yang mungkn tidak mungkin sama dengan
tujuan perusahaan. Mereka mengkehendaki demikian dengan harapan tidak terjadi
penyimpangan yang terlalu besar dan kebutuhan mereka dapat dijadikan
sebagai pelengkap serta harmonis dengan kepentingan perusahaan. Semua ini
dipengaruhi oleh motivasi masing-masing individu. Motivasi yang baik akan
mendorong orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara yang wajar.
Sedang kebutuhan akan terpenuhi apabila mereka dapat bekerja dengan baik, dan
pada saat itulah mereka menyumbangkan kemampuannya untuk mencapai tujuan
organisasi.
3. Prinsip
kesatuan komando
Prinsip
kesatuan komando ini sangat penting untuk menyatukan arah tujuan dan tangggung
jawab para bawahan. Bilamana para bawahan hanya memiliki satu jalur didalam
melaporkan segala kegiatannya. Dan hanya ditujukan kepada satu pimpinan saja,
maka pertentangan didalam pemberian instruksi dapat dikurangi, serta semakin
besar tanggung jawab mereka untuk memperoleh hasil maksimal.
Daftar pustaka :
1. Halim,Abduldkk.2003.Sistem Pengendalian Manajemen Edisi Revisi.
Yogyakarta:UPP AMP YKPN
3. Muhammad Firdaus, 2009. Manajemen Agribisnis. Yang
Menerbitkan PT. Bumi Aksara: Jakarta.
4. Schermerhorn, J. R., (2003). Manajemen. Jogjakarta
: Andi Yogyakarta.
5. Umar,Husein.2003.Busines An Inroduction. Jakarta: PT.
Gramedia


0 komentar:
Posting Komentar