I.
Empowerment,
Stres, dan Konflik
A.
Pengertian
Empowerment
◊ Pemberdayaan (empowerment) merupakan central theme atau jiwa partisipasi yang
sifatnya aktif-kreatif. Pemberdayaan merupakan proses perincian (breakdown) dari hubungan atau relasi antara subjek dan objek (termasuk
dikotomi laki-laki & perempuan)
◊ Richard Carver, Managing Director dari Coverdale Organization
mendefinisikan empowerment sebagai mendorong dan membolehkan
seseorang untuk mengambil tanggung jawab secara pribadi untuk meningkatkan atau
memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan
kontribusi dalam pencapaian sasaran organisasi. Empowerment memerlukan
penciptaan budaya yang mendorong pegawai dalam setiap tingkatan untuk melakukan
sesuatu yang berbeda dan membantu pegawai untuk percaya diri dan kemampuan
untuk melakukan perubahan.
B.
● Pengertian Stres
◊ Mengutip penegrtian stres dari Handoko (1993),
stress merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir
dan kondisi seseorang. Kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressor.
◊ Hans Selye seorang ilmuan dari Kanada, dalam
bukunya The Stress of Live, yang
mendefinisikan stress sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh terhadap
tuntutan yang diterimanya. Definisi sederhana ini menghubungkan komponen dari stress,
yaitu antara tuntutan (bersifat eksternal) dan respon atau tanggapan (bersifat
internal).
● Sumber Stres
Menurut Robins (1996 :224) sumber stres yang
potensial adalah sebagi berikut :
1. Faktor lingkungan,
meliputi :
Ketidakpastian ekonomi, Ketidakpastian
politik, Ketidakpastian teknologi
2. Faktor
organisasi, meliputi :
Tuntutan
tugas, Tuntutan peran, Tuntutan antar pribadi, Struktur organisasi,
Kepemimpinan organisasi, Tahapan hidup organisasi
3. Faktor
individual, meliputi :
Masalah keluarga, Masalah ekonomi,
Kepribadian
Menurut Grant Brecht
(2000), penyebab dari stress dibedakan menjadi dua
macam :
a.
Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan,seperti
kematian, perceraian, pension, luka
batin, dan kebangkrutan.
b. Penyebab
mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran
rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akandimakan, dan antri.
C. ● Pengertian Konflik :
◊ konflik adalah suatu proses sosial
antara dua orang, dua kelompok,atau lebih yang
salah
satu pihaknya berupaya menyingkirkan yang lain dengan menghancurkan atau
membuatnya
tak berdaya.
◊
Soerjono Soekanto mengungkapkan bahwa konflik merupakan pertentangan untuk
berusaha
memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lawan.
● Proses Konflik
Menurut Pondi, Proses terjadinya
konflik sebagai berikut.
1.
Konflik Laten (Latent Conflict)
Konflik Laten merupakan tahap dari munculnya
faktor-faktor penyebab konflik dalam organisasi. Bentuk-bentuk dasar dari
situasi ini ialah persaingan untuk memperebutkan sumberdaya yang terbatas,
konflik peran, persaingan perebutan posisi di dalam organisasi.
2. Konflik Yang Dipersepsikan (Perceived
Conflict)
Pada tahap ini salah satu pihak memandang
pihak lain sebagai penghambat atau mengancam pencapaian tujuannya.
3.
Konflik Yang Dimanifestasikan (Manifest Conflict)
Pada tahap ini perilaku tertentu sebagai
indikator konflik sudah mulai ditunjukkan, seperti adanya sabotase, agresi
terbuka, konfrontasi, rendahnya kinerja dan lain sebagainya.
4.
Resolusi Konflik (Conflict Resolution)
Pada tahap ini konflik yang terjadi
diselesaikan dengan berbagai macam cara dan pendekatan.
5.
Konflik Aftermath
Jika konflik sudah benar-benar diselesaikan
maka hal itu akan meningkatkan hubungan para anggota organisasi. Hanya saja
jika penyelesaian konflik tidak tepat, maka akan dapat menimbulkan konflik yang
baru.
Menurut Smith,
Proses terjadinya konflik sebagai berikut :
1. Tahap Antisipasi,
yaitu merasakan munculnya gejala perubahan yang mencurigakan.
2. Tahap Menyadari, yaitu perbedaan mulai
dieksepsikan dalam bentuk suasana yang tidak mengenakkan.
3. Tahap pembicaraan,
yaitu pendapat-pendapat berbeda mulai bermunculan.
4. Tahap Perdebatan Terbuka, yaitu perbedaan
pendapat mulai ditunjukkan dengan nyata dan terbuka.
5. Tahap Konflik Terbuka, yaitu masing-masing
pihak berusaha memaksakan kehendaknya kepada pihak lain.
D. Kasus yang berkaitan
Dengan Stres dan Konflik Pada Organisasi
Sebagai contoh Angela memandang
dirinya sebagai seorang yang menyenangkan, tetapi karyawan yang lain memandang
dari sisi jelek kepribadiannya. Rekan kerjanya adalah seorang teman baik
Angela, menuduh Angela telah mencuri klien penting. Hubungannya semakin
memburuk, rekan kerja Angela menyebarkan fitnah dan berita jelek. Angela
mengadu, tetapi atasannya tidak memperhatikan pengaduannya. Rekan kerjanya
akhirnya ditembak. Peristiwa ini
menggambarkan bagaimana kesalahpahaman dan perselisihan paham meluas menjadi
konflik sosioemosional, yang mengakibatkan hasil negatif bagi organisasi.
Konflik adalah tidak baik untuk bisnis, sebab berdampak pada keputusan pegawai
dan konsentrasi dalam bekerja. Konflik sosioemosional menyebabkan frustasi,
ketidakpuasan pekerjaan, dan stres. Dengan perkataan lain, konflik menunjukan
peningkatan pergantian dan ketidakhadiran pegawai.
II.
Komunikasi
Dalam Manajemen
A. Pengertian Komunikasi
◊
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu
pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau
verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa
verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan
dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya
tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut
komunikasi nonverbal.
◊
adalah keterampilan yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap
gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama
lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya.
Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain
dilingkungannya adalah komunikasi baik secara verbal maupun non
verbal ( bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh
suku bangsa).
B. Proses Komunikasi
1. Pengirim
pesan (sender) dan isi pesan/materi
Pengirim
pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang
dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai
dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan
atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal
dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.
Materi pesan
dapat berupa :
a. Informasi
b. Ajakan
c. Rencana
kerja
d. Pertanyaan
dan sebagainya
2. Simbol/
isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode
atau simbol sehingga pesannya dapat
dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan
dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian
muka lainnya). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk,
mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.
3. Media/penghubung
Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ;
TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan
media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah
penerima pesan, situasi dsb.
4. Mengartikan
kode/isyarat
Setelah pesan diterima melalui
indera (telinga, mata dan seterusnya) maka si penerima pesan harus
dapat mengartikan simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat
dimengerti /dipahaminya.
5. Penerima
pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat
memahami pesan dari sipengirim meskipun dalam bentuk
code/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh
pengirim
C.
Hambatan Komunikasi
● Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan
disampaikan belum jelas bagi dirinya
atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi
emosional.
● Hambatan dalam
penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi
karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih
dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama
atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
● Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan
media komunikasi, misalnya gangguan
suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
● Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam
menafsirkan sandi oleh si penerima
● Hambatan dari penerima
pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima atau mendengarkan pesan, sikap prasangka
tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
● Hambatan dalam
memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya
akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan
sebagainya.
2.
Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca
gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan
alat komunikasi dan sebagainya.
3.
Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang
mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit
antara pemberi pesan dan penerima
4.
Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis
dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai
serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.
D. Pengertian komunikasi
interpersonal efektif dalam organisasi yang mencakup Componential dan Situasional
Komunikasi interpersonal adalah
proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang
lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui
balikannya. (Muhammad, 2005,p.158-159).
Menurut Devito (1989), komunikasi
interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan
oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan
dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
Komunikasi interpersonal adalah
komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap
pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau
nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang,
seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya
(Mulyana, 2000, p. 73)
Menurut Effendi, komunikasi
interpersonal merupakan komunikasi antar komunikator dengan komunikan, dimana
komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap,
pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis yaitu berupa
percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan
komunikan ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator
mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil
atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan kesempatan pada komunikan untuk
bertanya seluas-luasnya (Sunarto, 2003, p. 13).
Komunikasi interpersonal efektif
dalam organisasi yang mencakup componential & situational, yaitu :
Komunikasi dalam organisasi atau
perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya dalam suatu penyampaian pesan
atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan
(downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun
antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication). Secara sederhana,
komunikasi adalah proses penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu
pengertian (meaning). Jadi dalam berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan
pesan yang ada pada kita kepada orang lain. Adapun berkomunikasi secara
langsung dan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain.
Karena dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan
balik secara langsung. Proses berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan
disampaikan oleh pengirim, kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran),
kemudian diterima oleh penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam
suatu organisasi mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.
1. Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi
dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian
pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai
dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2. Situasional
Interaksi tatap muka antara dua
orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung
disekitarnya.
E.
Model pengolahan informasi dalam komunikasi yang mencakup Rational,
Limited Capacity, Expert, Cybernetic
1. Rational
Pemodelan secara visual yang
memiliki banyak kemampuan (powerful) untuk pembentukan sistem berorientasi
obyek.
2. Limited capacity
Kapasitas pengolahan informasi yang
terbatas kepada tujuan manipulasi sebuah subset informasi yang tersedia
3. Expert
Keahlian dalam pengolahan informasi
yang tersedia
4. Cybernetic
Teori sistem pengontrol yang
didasarkan pada komunikasi (penyampaian informasi)
antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari
sistem berfungsi dengan memperhatikan lingkungan.
F.
Model interaktif manajemen dalam komunikasi yang mencakup Confidence
Immediacy, Interaction Management,
Expressiveness, Other-Orientation
Model Interaktif Manajemen adalah
suatu cara atau teknik yang digunakan saat menyajikan informasi secara interaktif.
Adapun yang mencakup ke dalam model interaktif manajemen sebagai berikut:
1. Confidence
Adanya rasa nyaman dalam organisasi untuk
berinteraksi.
2. Immediacy
Adanya kepercayaan yang membuat
suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan.
3. Interaction management
Adanya berbagai interaksi dalam
manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang
bersangkutan.
4. Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam
suatu organisasi dengan berbagai macam
ekspresi perilaku.
5. Other-orientation
Dalam suatu manajemen organisasi
berorientasi pada pegawai.
Referensi :
-
Dwidjowijoto, R.N., Wrihatnolo, R.R.
(2007). Manajemen pemberdayaan.
Jakarta : PT. Elex Media Komputindo
-
Hardjana, A.M. (2003). Komunikasi intrapersonal dan interpersonal.
Yogyakarta :
Kanisius
-
Soeharto, Iman. (2004). Penyakit jantung koroner dan serangan
jantung. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama
-
Suranto. (2011). Komunikasi interpersonal. Yogyakarta :
Graha Ilmu, Edisi Pertama
-
Umar, Husein. (2005). Riset sumber daya manusia. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama
-
https://books.google.co.id/books?id=rtcB1bh9iP4C&dq=pengertian+konflik&hl=id&source=gbs_navlinks_s
-
http://amenaalatas.blogspot.co.id/2015/01/komunikasi-interpersonal-efektif.html
