Biodata McGoldrick
Monica McGoldrick, M.A., M.S.W., Ph.D. adalah pendiri dan
direktur dari Multicultural Family Institute in Highland Park, New Jersey,dan
asisten dosen di Robert Wood Johnson
Medical School.Ia lahir di Brooklyn,
New York dan besar disana dan di Solebury Pennsylvania. Dia mengutamakan
mempelajari bahasa rusia di Brown University dan mendapatkan gelar master dalam
studi di Universitas Yale sebelum beralih ke pekerjaan sosial dan terapi
keluarga,dan dia menerima MSW dan kemudian mendapatkan gelar kehormatan dari
Smith College School untuk pekerjaan
sosial.
Vidio klinisnya :
Legacies kerugian dan Harnessing kekuatan genograms tersedia di www.psychoterapi.net. Bukunya mencakup
Genograms kajian campur tangannya. Sebuah buku yang menjelaskan penggunaan dari
pemetaan genogram terkenal dengan contoh dari Sigmund Freud ke Fondas dan
Kennedys,genogram perjalanan,menghubungkan dengan keluarga anda. Sebuah buku
yang mengkaji betapa pentingnya keluarga,jaringan untuk pembaca umum. Etnis dan
keluarga terapi,sebuah buku yang membahas pola 51 budaya kelompok yang
berbeda,diperluas kehidupan keluarga siklus,sebuah buku yang mengeksplorasi
yang dapat dibaca di mode evolusi manusia melalui siklus hidup,yang tinggal
diluar kerugian,buku tentang kesedihan dan berkabung, belum terselesaikan dan
revesioning terapi keluarga dan ras budaya dan jenis kelamin,dalam kegiatan
klinis yang menguraikan faktor sosial-budaya yang mempengaruhi keluarga
dimasyarakat kita.
Pembahasan dan yang dikembangkan
Carter dan McGoldrick (1980) menjelaskan
bahwa tugas perkembangan utama dari dewasa muda yang belum kawin adalah
“menerima keluarga asalnya” (hal. 13). Tiga tugas perkembangan yang dicantumkan
oleh Carter dan McGoldrick (1988, hal. 15) :
- Pembedaan diri
dalam hubungannya dengan keluarga asalnya.
- Menjalin hubungan dengan teman sebaya yang akrab.
- Pembentukan diri
yang berhubungan dengan kemandirian pekerjaan dan finansial.
paradigma Carter dan McGoldrick merumuskan tahap
siklus kehidupan keluarga yg berfokus pada hal – hal penting dimana anggota keluarga masuk / keluar dari
keluarga, jadi mengganggu keseimbangan keluarga
Carter dan McGoldrick (1988, dalam
Santrock, 2004) yang jadi acuan para psikolog keluarga berikut ini:
1. Tahap ‘Meninggalkan Rumah dan
Menjadi Individu Dewasa Lajang’. Tahap ini tidak selalu terjadi di budaya kita,
karena banyak orang dewasa memilih tinggal di rumah orangtuanya. Yang pasti,
ketika sudah mulai kuliah, biasanya seseorang jadi jauh lebih mandiri dibandingkan
usia sebelumnya. Yang cukup banyak terjadi di budaya kita adalah beberapa
individu dewasa yang sudah memiliki penghasilan ikut membayar beberapa
pengeluaran di rumah, sementara yang belum punya penghasilan membantu mengurus
rumah. Kemandirian ini (mulai melepas pengaruh orangtua) penting lho dalam
tahapan hidup berkeluarga. Justru mereka yang masih terlalu tergantung pada
orangtuanya di tahap ini (misalnya masih terus mengharap dibayari oleh
orangtua) seringkali mengalami masalah dalam kehidupan berkeluarganya kelak.
2. Tahap ‘Pasangan Baru’. Tahap ini
terjadi di bulan-bulan pertama pernikahan. Pada tahap ini terjadi beberapa
perubahan peran, mulai dari sepasang kekasih menjadi suami dan istri. Dalam
budaya kita, kebanyakan orang sudah menyadari bahwa ketika menikah, dia juga
harus menyesuaikan diri dengan keluarga besar pasangan. Pada tahap ini biasanya
individu yang menikah mengubah beberapa perilakunya sehingga sesuai dengan
pasangannya. Contohnya apabila biasanya ia pulang dari kantornya sesukanya,
kini mungkin ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar bisa
segera pulang. Contoh lain adalah mereka yang kemudian jadi punya kebiasaan
baru untuk memasak sarapan. Beberapa pertengkaran besar mungkin terjadi pada
tahap ini karena baik suami dan istri sedang berusaha menyesuaikan diri dengan
peran baru sebagai suami / istri, juga sebagai menantu, dan bagian baru dari
lingkungan pasangan. Berbagai pembelajaran juga terjadi pada saat ini, terutama
kalau pasangan bisa bertengkar dengan cara yang baik.
3. Tahap ‘Menjadi Orangtua’. Banyak
yang mengatakan bahwa tahap ini terjadi setelah anak lahir. Kenyataannya tahap
ini sudah terjadi sejak pasangan menyadari kehamilan sang istri. Bukankah
setelah sadar hamil, maka mulai ada beberapa perubahan perilaku, seperti usaha
menjaga asupan makanan, istirahat lebih banyak, pemeriksaan kehamilan, juga
membeli barang yang akan digunakan untuk anak kelak? Tahap ini terjadi
setidaknya sampai anak memasuki masa remajanya. Sampai pada tahap itu idealnya
pasangan yang kini menjadi orangtua memiliki visi dan misi yang sejalan dan
dapat saling mendukung, karena inilah yang akan membuat anak tumbuh dan
berkembang optimal. Kenyataannya banyak pasangan yang justru mengalami
pertengkaran terhebatnya pada tahap ini, karena berbagai kelemahan personal dan
ketidaksiapannya menjadi orangtua. Pada budaya kita, keluarga besar seringkali
punya peran pula dalam tahap ini, dan tantangan ini harus disikapi secara
tepat.
4. Tahap ‘Keluarga dengan Remaja’. Ini
merupakan salah satu tahap yang paling menantang dalam kehidupan berkeluarga.
Anak yang tadinya penurut cenderung jadi remaja tak penurut, dan ini merupakan
perkembangan normal. Anak yang sebelumnya sulit diatur, jadi remaja yang jauh
lebih sulit diatur. Orangtua yang sudah terbiasa mengatur dengan cara yang
telah berhasil pada tahap sebelumnya cenderung mengalami kesulitan, dan tentu
saja ini jadi tantangan tersendiri dalam hidup bersama pasangan. Apabila
pasangan memang betul-betul siap dan trampil menjadi pasangan dan menjadi orangtua,
tantangan besar ini akan lebih mudah dihadapi.
5. Tahap ‘Keluarga dengan Anak
Dewasa’, artinya anak yang mereka besarkan saat ini sudah menjadi dewasa
mandiri. Anak dari pasangan ini mungkin sudah atau belum menikah, tapi belum
punya keturunan. Beberapa pasangan merasa lebih dekat satu sama lain di tahap
ini, karena masa-masa mengasuh anak telah mereka lewati bersama. Beberapa
pasangan lain justru menjadi asing satu sama lain, terutama mereka yang pada
tahap-tahap sebelumnya kurang memahami cara berkomunikasi yang hangat.
6. Tahap ‘Keluarga di Masa Pensiun’.
Pensiun mengubah cara hidup keluarga, biasanya karena tanggung jawab untuk
bekerja dan penghasilan menjadi sangat berkurang dibandingkan sebelumnya.
Selain itu terjadi pula perubahan fisik, beberapa orang mengalami sakit
berkepanjangan dan butuh beraneka perawatan. Cucu yang telah dilahirkan anak
mereka juga menjadikan pasangan sebagai nenek dan kakek, dan ini membedakan
pula kondisi psikologis mereka. Meninggalnya pasangan menjadikan individu sebagai
janda / duda, dan ini adalah tantangan tersendiri.
Tahap-tahap ini terjadi pada sebagian
besar keluarga. Apabila ada yang terlewat (contohnya tidak mengalami tahap
‘Pasangan Baru’ karena terlanjur hamil sebelum menikah), maka pasangan ini
harus bekerja lebih keras untuk membuat pernikahannya bahagia. Dalam tiap tahap
pun ada cara-cara yang berbeda untuk mengatasi permasalahan yang dialami. Jika
pasangan lebih suka menyalahkan satu sama lain dibandingkan bekerja keras
bersama, tentu saja yang didapatkan adalah masalah lebih besar, bukan
kebahagiaan.
McGoldrick (1988) memberikan sebuah deskripsi
yang amat bagus tentang proses ini dan masalah-masalah psikososial selama masa
ini. Banyak pasangan mengalami masalah-masalah penyesuaian seksual, serikali
disebabkan oleh ketidaktahuan dan informasi yang salah yang mengakibatkan
kekecewaan dan harapan-harapan yang tidak realistis. Malahan, banyak pasangan
yang membawa kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi
kedalam hubungan mereka, dan hal-hal ini dapat mempengaruhi hubungan seksual
secara merugikan. (Goldenberg dan Goldenberg, 1985).
Menurut Carter dan MCGoldrick mengatakan
sistem keluarga sekurang-kurangnya tiga generasi :
Ø Kakek-Nenek
Ø Ayah-Ibu
Ø Anak-anak
Refrensi

