Tugas Ke-1
Teori Kepribadian Sehat
Nama : Citra Siti Aisyah
Kelas : 2PA17
Npm : 12514445
A. Aliran Psikoanalisa
Psikolanalisa
merupakan salah satu aliran besar dalam dunia psikologi, pencetus awalnya
adalah Sigmund Freud, berikut ini akan dijelaskan teori psikoanalisa dari
Sigmund Freud dan kemudian mengaitkannya dengan kepribadian yang sehat.
Psikoanalisa
adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya,
sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Freud pada
awalnya memang mengembangkan teorinya tentang struktur kepribadian dan
sebab-sebab gangguan jiwa dan dengan konsep teorinya yaitu perilaku dan pikiran
dengan mengatakan bahwa kebanyakan apa yang individu lakukan dan pikirkan hasil
dari keinginan atau dorongan yang mencari pemunculan dalam perilaku dan
pikiran.
Menurut
teori psikoanalisa, inti dari keinginan dorongan ini adalah bahwa mereka
bersembunyi dari kesadaran individual dan apabila dorongan – dorongan ini tidak
dapat disalurkan, dapat menyebabkan gangguan kepribadian dan juga mengganggu
kesehatan mental yang disebut psikoneurosis. Dengan kata lain, mereka tidak
disadari. Ini adalah ekspresi dari dorongan tidak sadar yang muncul dalam
perilaku dan pikiran. Istilah “motivasi yang tidak disadari” / ( unconscious
motivation ) menguraikan ide kunci dari psikoanalisa.
Dalam teori
psikoanalisanya freud menjelaskan tentang struktur kepribadian individu,
struktur kepribadian tersusuan atas 3 sistem pokok, yakni :
- Id
Id merupakan
aspek biologis yang strukturnya paling mendasar dari kepribadian. Id juga
merupakan sistem kepribadian yang asli, dimana id sebagai rahim tempat berkembangan
ego dan superego. Id berisikan segala sesuatu yang secara psikologis ada sejak
lahir dan merupakan reservoir energi psikis. Id berhubungan erat dengan
proses-proses jasmaniah darimana id mendapatkan energinya. Id memiliki 2 proses
yaitu proses primer dan tindakan refleksi. Id terdiri dari dorongan – dorangan
biologis seperti makan, sex dan agresifitas.
- Ego
Ego
merupakan aspek psikologis yang berkembang dari id yang struktur kepribadianya
mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Ego timbul
karena kebutuhan – kebutuhan organisme memerlukan transaksi – transaksi yang
sesuai dengan dunia kenyataan objektif. Perbedaan pokok antara id dan ego
adalah id hanya mengenal kenyataan subjektif jiwa sedangkan ego membedakan
antara hal – hal yang terdapat dalam batin dan hal – hal yang terdapat dalam
dunia luar. Ego disebut juga sebagai eksekutif kepribadian karena ego
mengontrol pintu-pintu arah tindakan, memilih segi lingkungan kemana ia akan
membri respon dan memutuskan insting mana yang akan dipuaskan.
- Superego
Superego
merupakan aspek sosiologis yang merefleksikan nilai – nilai sosial dan
menyadarkan individu atas tuntutan moral. Gambaran kesadaran akan nilai-nilai
dan moral masyarakat yang ditanamkan oleh adat istiadat, agama, orangtua, guru,
dan orang lain kepada anak. Karena itu pada dasarnya superego adalah hati
nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu
berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada
kesempurnaan.
Freud juga
membagi aktivitas mental individu dalam beberapa tingkatan berdasarkan sejauh
mana individu menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :
- Tingkat
Sadar Atau Kesadaran ( Conscious Level )
Pada tingkat
ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan
lain – lain.
- Tingkat
Prasadar ( Preconscious Level )
Pada tingkat
ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya
apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan
yang telah dipelajari, dan lain – lain.
- Tingkat
Tidak Disadari ( Unconscious Level )
Pada tingkat
ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu.
Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral,
pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional,
dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan
lain-lain.
Meskipun
masing-masing bagian dari kepribadian total ini mempunyai fungsi, sifat,
komponen, prinsip kerja, dinamisme dan mekanismenya sendiri. Namun mereka
berinteraksi begitu erat satu sama lain sehingga sulit (tidak mungkin) untuk
memisah – misahkan pengaruhnya dan menilai sumbangan relatifnya terhadap
tingkah laku manusia. Tingkah laku hampir selalu merupakan produk dari
interaksi diantara ketiga sistem tersebut jarang salah satu sistem berjalan
terlepas dari kedua sistem lainnya.
Kepribadian
yang sehat menurut psikoanalisis :
- Menurut
freud kepribadian yang sehat yaitu jika individu bergerak menurut pola
perkembangan yang ilmiah.
- Kemampuan
dalam mengatasi tekanan dan kecemasan, dengan belajar.
- Mental
yang sehat ialah seimbangnya fungsi dari superego terhadap id dan ego.
- Tidak
mengalami gangguan dan penyimpangan pada mentalnya.
- Dapat
menyesuaikan keadaan ddengan berbagai dorongan dan keinginan.
- Aliran Behavioristik
B. Aliran Behavioristik
Behaviorisme
juga disebut psikologi S – R (stimulus dan respon). Behaviorisme menolak bahwa
pikiran merupakan subjek psikologi dan bersikeras bahwa psokologi memiliki
batas pada studi tentang perilaku dari kegiatan-kegiatan manusia dan binatang
yang dapat diamati. Teori Behaviorisme sendiri pertama kali diperkenalkan oleh
John B. Watson (1879-1958)
Aliran
behaviorisme mempunyai 3 ciri penting.
1.
Menekankan
pada respon-respon yang dikondisikan sebagai elemen dari perilaku
2.
Menekankan
pada perilaku yang dipelajari dari pada perilaku yang tidak dipelajari.
Behaviorisme menolak kecenderungan pada perilaku yang bersifat bawaan.
3.
Memfokuskan
pada perilaku binatang. Menurutnya, tidak ada perbedaan alami antara perilaku
manusia dan perilaku binatang. Kita dapat belajar banyak tentang perilaku kita
sendiri dari studi tentang apa yang dilakukan binatang.
Menurut
penganut aliran ini perilaku selalu dimulai dengan adanya rangsangan yaitu
berupa stimulus dan diikuti oleh suatu reaksi beupa respons terhadap rangsangan
itu. Salah satu penganut watson yang sangat besar masukannya untuk perkembangan
behaviorisme adalah B.F. Skinner. Aliran ini memandang manusia seperti mesin
yang dapat dikendalikan perilakunya lewat suatu pengkondisian. Ini menganggap
manusia yang meberikan respon positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini
manusia di anggap tidak memiliki sikap diri sendiri.
Jadi menurut
Behaviorisme manusia dianggap memberikan respons secara pasif terhadap
stimulus-stimulus dari luar. Kepribadian manusia sebagai suatu sistem yang
bertingkah laku menurut cara yang sesuai peraturannya dan menganggap manusia
tidak memiliki sikap diri sendiri.
Kepribadian
yang sehat menurut behavioristik:
1.
Memberikan
respon terhadap faktor dari luar seperti orang lain dan lingkungannya
2.
Bersifat
sistematis dan bertindak dengan dipengaruhi oleh pengalaman
3.
Sangat
dipengaruhi oleh faktor eksternal, karena manusia tidak memiliki sikap dengan
bawaan sendiri
4.
Menekankan
pada tingkah laku yang dapat diamati dan menggunakan metode yang obyektif
C. Aliran Humanistik
Istilah
psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli
psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan
Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh
atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah
psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai
“kekuatan ketiga” (a third force) karena humanistik muncul sebagai kritik
terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan
pesimistik ala psikoanalisa.
Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu
dituntut untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri.
Bukan saja mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu
dan memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan
benar sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif.
Ciri dari kepribadian sehat adalah mengatualisasikan diri,
bukan respon pasif buatan atau individu yang terimajinasikan oleh
pengalaman-pengalaman masa lalu. Aktualisasi diri adalah mampu mengedepankan
keunikan dalam pribadi setiap individu, karena setiap individu memiliki hati
nurani dan kognisi untuk menimbang-nimbang segala sesuatu yang menjadi
kebutuhannya.
Kepribadian yang sehat menurut humanistik, perilaku yang
mengarah pada aktualisasi diri:
1.
Menjalani hidup seperti seorang anak, dengan penyerapan
dan konsentrasi sepenuhnya.
2.
Mencoba hal-hal baru ketimbang bertahan pada cara-cara
yang aman dan tidak berbahaya.
3.
Lebih memperhatikan perasaan diri dalam mengevaluasi
pengalaman ketimbang suara tradisi, otoritas, atau mayoritas.
4.
Jujur, menghindari kepura-puraan dalam “bersandiwara”
5.
Siap menjadi orang yang tidak popular bila mempunyai
pandangan sebagian besar orang.
6.
Memikul tanggung jawab.
7.
Bekerja keras untuk apa saja yang ingin dilakukan.
D. Pendapat Allport
Allport ingin menghilangkan kontradiksi-kontradiksi
dan kekaburan-kekaburan yang terkandung dalam pembicaraan-pembicaraan tentang
“diri” dengan membuang kata itu dan menggantikannya dengan suatu kata lain yang
akan membedakan konsepnya tentang “diri” dari semua konsep lain. Istilah yang
dipilihnya adalah proprium dan dapat didefinisikan dengan
memikirkan bentuk sifat “propriate” seperti dalam kata “appropriate”.
Proprium menunjuk kepada
sesuatu yang dimiliki seseorang atau unik bagi seseorang. Itu berarti bahwa proprium (self) terdiri dari
hal-hal atau proses-proses yang penting dan bersifat pribadi bagi seorang
individu, segi-segi yang menentukan seseorang sebagai yang unik. Allport
menyebutnya “saya sebagaimana dirasakan dan diketahui”.
Proprium berkembang dari masa
bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat “diri”. Apabila semua segi
perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut dipersatukan
dalam suatu konsep proprium. Jadi proprium adalah susunan dari tujuh tingkat “diri”
ini. Munculnya proprium merupakan suatu
prasyarat untuk suatu kepribadian yang sehat.
“Diri” jasmaniah. Kita tidak
dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri. Bayi itdak dapat membedakan
antara diri (“saya”) dan dunia sekitarnya. Kira-kira pada usia 15 bulan, maka
muncullah tingkat pertama perkembangan proprium diri jasmaniah. Kesadaran
akan “saya jasmaniah” misalnya bayi membedakan antara jari-jarinya dan sebuah
benda yang dipegang dalam jari-jarinya.
Identitas diri.
Pada tingkat kedua perkembangan, muncullah perasaan identitas diri. Anak mulai sadar akan
identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah. Anak
mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin adalah bayangan yang
sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa perasaan tentang “saya”
atau “diri” tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman yang
berubah-ubah.
Harga diri. Tingkat
ketiga dalam perkembangan proprium ialah timbulnya harga
diri. Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai
suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atas usahanya sendiri. Allport
percaya bahwa hal ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan,
apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan
harga diri yang timbul dapat dirusakkan. Akibatnya dapat timbul perasaan dihina
dan marah.
Perluasan diri (self extension).
Tingkat perkembangan diri berikutnya adalah perluasan diri, mulai sekitar usia
4 tahun. Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam
lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah milik anak tersebut.
Anak berbicara tentang “kepunyaanku”, ini adlah permulaan dari kemampuan orang
untuk memperluas dirinya, untuk memasukkan tidak hanya benda-benda tetapi juga
abstraksi-abstraksi, nilai-nilai, dan kepercayaan-kepercayaan.
Gambaran diri. Gambaran diri berkembang pada tingkat berikutnya.
Hal ini menunjukkan bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang
dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi-interaksi antara orangtua dan
anak. Lewat pujian dan hukuman anak belajar bahwa orangtuanya mengharapkan
supaya menampilkan tingkah laku-tingkah laku tertentu dan manjauhi itngkah
laku-tingkah laku lain. Dengan mempelajari harapan-harapan orangtua, anak
mengembangkan dasar untuk suatu perasaan tanggung jawab moral serta untuk
perumusan tentang tujuan-tujuan dan intensi-intensi.
Diri sebagai pelaku rasional.
Setelah anak mulai sekolah, diri sebagai pelaku rasional
mulai timbul. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru
dipelajari dari guru-guru dan teman-teman sekolah serta hal yang lebih penting
ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual.
Anak belajat bahwa dia dapat memecahkan masalah-masalah dengan menggunakan
proses-proses yang logis dan rasional.
Perjuangan proprium (propriate striving).
Dalam masa adolesensi, perjuangan proprium (propriate striving), tingkat
terakhir tingkat terakhir dalam perkembangan diri (selfhood) timbul.
Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat
menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri yang baru, segi yang
sangat penting dari pencarian identitas ini adalah definisi suatu tujuan hidup.
Pentingnya pencarian ini yakni untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa
depan, tujuan-tujuan dan impian-impian jangka panjang.
Perkembangan dari daya dorong kedepan, intensi-intensi,
aspirasi-aspirasi, dan harapan-harapan orang itu mendorong kepribadian yang
matang. “sasaran-sasaran yang menentukan” ini dalam pandangan Allport sangat
penting untuk kepribadian sehat.
7 kriteria
kematangan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari
kepribadian sehat, yaitu:
1). Perluasan
Perasaan Diri
Ketika diri berkembang, maka diri itu
meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri berpusat hanya pada
individu kemudian diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan citi-cita yang
abstrak. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh. Allport
menamakan hal ini “pertisipasi otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa
suasana yang penting dari usaha manusia”. Orang harus meluaskan diri ke dalam aktivitas.
Menurut Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting
bagi diri; harus berarti sesuatu bagi orang itu. Apabila anda mengerjakan suatu
pekerjaan karena anda percaya bahwa pekerjaan itu penting, menantang kemampuan,
membuat anda merasa enak, maka anda merupakan seorang partisipan otentik dalam
pekerjaan itu. Aktivitas itu lebih berarti daripada pendapatan yang diperoleh
dan memuaskan kebutuhan-kebuthan lain juga.
Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai
aktivitas atau orang atau ide, maka ia semakin sehat secara psikologis. Diri
menjadi tertanam dalam aktivitas-aktivitas yang penuh arti dan menjadi
perluasan perasaan diri.
2). Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Allport membedakan dua macam kehangatan dalam hubungan dengan
orang-orang lain: kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan
terharu. Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman
(cinta) terhadap orangtua, anak, partner, teman akrab. Apa yang dihasilkan oleh
kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang
berkembang baik, syarat lain bagi kapasitas keintiman adalah suatu perasaan
identitas diri yang berkembang dengan baik.
Ada perbedaan
antara hubungan cinta dari orang yang neurotis dengan hubungan cinta dari
kepribadian-kepribadian yang sehat. Orang-orang yang neurotis harus menerima
cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya. Apabila
mereka membari cinta, maka cinta itu diberikan dengan syarat-syarat dan
kewajiban-kewajiban yang bersifat timbal balik. Cinta dari orang yang sehat
adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan, atau mengikat. Perasaan terharu, tipe
kehangatan yang kedua adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan
perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas
untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan,
ketakutan-ketakutan, dan kegagalan-kegagalan yang merupakan cirri kehidupan
manusia. Empati ini timbul melalui “perluasan imajinatif” dan perasaan orang
sendiri terhadap kemanusiaan pada umumnya. Sebagai hasil dari kapasitas
perasaan terharu, kepribadian yang matang sabar terhadap tingkah laku
orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya. Orang yang sehat
menerima kelemahan-kelemahan manusia, dan mengetahui bahwa dia memiliki
kelemahan-kelemahan yang sama. Akan tetapi, orang yang neurotis tidak sabar dan
tidak mampu memahami sifat universal dari pengalaman-pengalaman dasar manusia.
3). Keamanan
Emosional
Kepribadian-kepribadian yang sehat juga mampu menerima
emosi-emosi manusia. Kepribadian-kepribadian yang sehat mengontrol emosi-emosi
mereka, sehingga emosi-emosi ini tidak mengganggu aktivitas-aktivitas
antarpribadi, emosi-emosi diarahkan kembali ke dalam saluran-saluran yang lebih
konstruktif. Akan tetapi orang-orang yang neurotis menyerah pada emosi apa saja
yang dominant pada saat itu, berkali-kali memperlihatkan kemarahan atau
kebencian.
Kualitas lain dari keamanan emosional ialah apa yang disebut
Allport “sabar terhadap kekecewaan”. Orang-orang yang sehat sabar menghadapi
kemunduran-kemunduran, tidak menyerah diri kepada kekecewaan, tetapi mampu
memikiran cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk
mencapai tujuan-tujuan yang sama atau tujuan-tujuan substitusi.
4). Persepsi Realistis
Orang-orang
yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang-orang yang
neurotis kerapkali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan
keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka
sendiri. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang-orang
lain atau situasi-situasi semuanya jahat atau semuanya baik menurut suatu
prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana
adanya.
5).
Keterampilan-keterampilan dan Tugas-tugas
Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan
keterampilan-keterampilan dan bakat-bakat tertentu, suatu tingkat kemampuan.
Kita harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara ikhlas, antusias,
melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita. Allport
mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki
keterampilan-keterampilan menjadi neurotis, akan tetapi tidak mungkin menemukan
orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka
pada pekerjaan mereka. Allport mengutip apa yang dikatakan Harvey Cushing, ahli
badah otak yang terkenal, “satu-satunya cara untuk melangsungkan kehidupan
adalah menyelesaikan suatu tugas”. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti
dan perasaan kontinuitis untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan
kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting
melakukannya dengan dedikasi, komotmen, dan keterampilan-keterampilan.
6). Pemahaman
Diri
Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri
yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis. Orang yang sehat terbuka
pada pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang
objektif. Orang yang memilii suatu tingkat pemahaman diri (self objectification) yang tinggi atau wawasan diri
tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negatif kepada
orang lain. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri
yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri
yang kurang.
7). Filsafah Hidup yang Mempersatukan
Bagi
Allport rupanya mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa
aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan. Allport menekankan bahwa nilai-nilai
(bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu
filsafat hidup yang mempersatukan. Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas
memisahkan orang yag sehat dari orang yang neurotis. Orang yang neurotis tidak
memiliki nilai-nilai atau hanya memiliki nilai-nilai yang terpecah-pecah dan
bersifat sementara sehingga tidak cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan
semua segi kehidupan.Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafat hidup
yang mempersatukan. Suara hati yang tidak matang atau neurotis sama seperti
suara hati kanak-kanak, yang patuh, membudak, penuh dengan
pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak
ke dalam masa dewasa. Sedangkan suara hati yang matang adalah suatu perasaan
kewajiban dan tangggung jawab kepada diri sendiri dan orang lain.
E. Pendapat Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog yang terkenal
dengan pendekatan terapi klinis yang berpusat pada klien (client centered).
Rogers kemudian menyusun teorinya dengan pengalamannya sebagai terapis selama
bertahun-tahun. Teori Rogers mirip dengan pendekatan Freud, namun pada
hakikatnya Rogers berbeda dengan Freud karena Rogers menganggap bahwa manusia
pada dasarnya baik atau sehat. Dengan kata lain, Rogers memandang kesehatan
mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa,
kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari
kecenderungan alamiah.
Perkembangan Kepribadian “Self”
Self atau self concept adalah
konsep menyeluruh yang terorganisir mengenai pengalaman yang berhubungan dengan
aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Self concept menggambarkan
konsep orang mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi
bagian dari dirinya, pandangan diri dalam berbagai perannya dalam kehidupan dan
dalam kaitannya dengan hubungan interpersonal.
Konsep pokok dari teori kepribadian Rogers
adalah self, sehingga dapat dikatakan selfmerupakan
struktur kepribadian yang sebenarnya. Carl Rogers mendeskripsikan the
self atau self-structure sebagai sebuah konstruk yang menunjukan
bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri. Self ini dibagi 2 yaitu :
1. Real Self adalah keadaan diri
individu saat ini.
2. Ideal Self adalah keadaan diri
individu yang ingin dilihat oleh individu itu sendiri atau apa yang ingin
dicapai oleh individu tersebut. Perhatian Rogers yang utama adalah bagaimana
organisme dan self dapat dibuat lebih kongruen/ sebidang. Artinya ada saat
dimana self berada pada keadaan inkongruen, kongruensi self ditentukan
oleh kematangan, penyesuaian, dan kesehatan mental, self yang kongruen adalah
yang mampu untuk menyamakan antara interpretasi dan persepsi “self I” dan “self
me” sesuai dengan realitas dan interpretasi self yang lain. Semakin lebar
jarak antara keduanya, semakin lebar ketidaksebidangan ini. Semakin besar
ketidaksebidangan, maka semakin besar pula penderitaan yang dirasakan dan jika
tidak mampu maka akan terjadi ingkongruensi atau mal-adjustment atau neurosis.
Misalkan anda memiliki ideal selfsebagai orang yang memiliki bentuk
tubuh ideal serta memiliki prestasi yang tinggi dibanding teman –teman anda,
tetapi nyatanya real self anda adalah orang yang tidak
memiliki bentuk tubuh yang ideal serta prestasi anda adalah rata-rata dengan
teman-teman anda maka akan ada kesenjangan antara real self dan ideal
self yang dapat menimbulkan kecemasan.
Bila seseorang, antara “self
concept”nya dengan organisme mengalami keterpaduan, maka hubungan itu
disebut kongruen (cocok) tapi bila sebaliknya maka disebut Inkongruen (tidak
cocok) yang bisa menyebabkan orang mengalami sakit mental, seperti merasa
terancam, cemas, defensive dan berpikir kaku serta picik. Sedangkan ciri-ciri
orang yang mengalami sehat secara psikologis (kongruen), dalam Syamsu dan
Juntika (2010:145) disebutkan sebagai berikut :
1.
Seseorang
mampu mempersepsi dirinya, orang lain dan berbagai peristiwa yang terjadi di
lingkungannya secara objektif
2.
Terbuka
terhadap semua pengalaman, karena tidak mengancam konsep dirinya
3.
Mampu
menggunakan semua pengalaman
4.
Mampu
mengembangkan diri ke arah aktualisasi diri (fully functioning person).
Peranan Positive Regard Dalam Pembentukan Kepribadian
Setiap manusia memiliki kebutuhan
dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari
orang lain (warmth, liking, respect, sympathy & acceptance, love &
affection). Kebutuhan ini disebut need for positive regard. Positive
regard terbagi menjadi 2 yaitu:
Conditional positive regard (bersyarat) Conditional
positive regard atau penghargaan positif bersyarat misalnya kebanyakan
orang tua memuji, menghormati, dan mencintai anak dengan bersyarat,yaitu sejauh
anak itu berpikir dan bertingkah laku seperti dikehendaki orangtua.
Unconditional positive regard (tak bersyarat). Unconditional
positive regard disini anak tanpa syarat apapun dihargai dan diterima
sepenuhnya.
Rogers menggambarkan pribadi yang
berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa
syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri
sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun
cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan. Setelah self dan organism bisa
menjadi suatu kesatuan yang baik, namun ketika ia masuk ke lingkungan sosial
luar yang beperan sebagai medan phenomenal. Belum tentu ia dapat berkembang
dengan sebagaimana mestinya.
Untuk mengatasi tekanan yang dirasakan, Rogers
berpendapat terdapat cara untuk mengatasinya, yaitu melalui Pertahanan. Ketika individu
berada dalam incongruity maka pada saat itu individu berada
dalam situasi terancam. Menjelang situasi yang mengancam itu individu akan
merasa cemas. Salah satu cara menghindarinya adalah dengan melarikan diri dalam
bentuk psikologis dengan menggunakan pertahanan-pertahanan. Dua macam cara
pertahanan adalah pengingkaran dan distorsi perseptual.
Pengingkaran adalah individu memblokir situasi yang
mengancam melaluimenyingkirkan kenangan buruk atau rangsangan yang memancing
kenangan itu munculdari kesadaran (menolak untuk mengingatnya). Distorsi
perseptual adalah penafsiran kembali sebuah situasi sedemikian rupasehingga
tidak lagi dirasakan terlalu mengancam. Ketika pertahanan yang dilakukan
seseorang runtuh dan merasa dirinya hancur berkeping-keping disebut sebagai
psikosis. Akibatnya perilaku individu menjadi tidak konsisten, kata-kata yang
keluar dari mulutnya tidak nyambung, emosinya tidak tertata, tidak mampu
membedakan antara diri dan bukan diri serta menjadi individu yang tidak punya
arah dan pasif.
Orang yang Berfungsi Sepenuhnya
1.
Keterbukaan
pada Pengalaman
Keterbukaan
pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Setiap pendirian dan perasaan
yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan ke system saraf organisme
tanpa distorsi atau rintangan.
Orang yang
demikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya; tidak ada segi
kepribadian tertutup. Kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima
pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat
menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsidan ungkapan baru.
Sebaliknya, kepribadian orang yang defensif, yang beroperasi menurut
syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di belakang
peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman
tertentu.
Orang yang
berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih “emosional” dalam pengertian bahwa
dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (misalnya, baik
kegembiraan maupun kesusahan) dan mengalami emosi-emosi itu lebih kuat daripada
orang yang defensif.
2.
Kehidupan
Eksistensial
Orang yang
berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan, karena
orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian
terus-menerus dipengaruhi atau disegarkan oleh tiap pengalaman, akan tetapi
orang yang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya
harmonis dengan diri; dia memiliki suatu struktur diri yang berprasangka dimana
semua pengalaman harus cocok dengannya.
Rogers percaya
bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat
esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu
yang terjadi pada momen itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu
struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respons atas pengalaman momen
yang berikutnya.
3.
Kepercayaan
Terhadap Organisme Orang Sendiri
Prinsip ini
mungkin paling baik dipahami dengan menunjuk kepada
pengalaman Rogers sendiri. Dia menulis “apabila suatu aktivitas
terasa seakan-akan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu
dilakukan. Dengan kata lain saya telah belajar bahwa seluruh perasaan
organismik saya terhadap suatu situasi lebih dapat dipercaya daripada pikiran
saya?”.
Dengan kata
lain, bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang
sangat dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan
daripada faktor-faktor rasional atau intelektual.
Karena
seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka
orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya
akan diri mereka sendiri. Sebaliknya orang-orang yang defensif membuat
keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya.
4.
Perasaan
Bebas
Rogers percaya
bahwa semakin seseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami
kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan
bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif
pikiran dan tindakan, dan juga memiliki perasaan berkuasa secara pribadi
mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya, tidak
diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau, karena
merasa bebas dan berkuasa maka orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan
dalam kehidupan dan merasa mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin
dilakukannya.
Orang yang
defensif tidak memiliki perasaan-perasaan bebas. Orang ini dapat memutuskan
untuk bertingkah laku dengan cara tertentu, namun tidak dapat mewujudkan pilihan
bebas itu ke dalam tingkah laku yang aktual.
5.
Kreativitas
Semua orang
yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Orang yang kreatif kerpakali
benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus
apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan merka
dan memungkinkan mereka mengmbangkan diri mereka sampai ke tingkat paling
penuh.
Orang yang
defensif, yang kurang merasa bebas, yang tertutup terhadap banyak pengalaman,
dan yang hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan adalah tidak
kreatif dan tidak spontan.
Rogers percaya
bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan
bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi-kondisi
lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menanggulangi
perubahan-perubahan traumatis seklipun seperti dalam pertempuran atau
bencana-bencana alamiah.
F. Pendapat Maslow
1. Prinsip
holistik
Menurut Maslow,holisme menegaskan bahwa organisme
selalu berting-kah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan sebagai rangkaian
bagian atau komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang terpisah
tetapi bagian dari suatu kesatuan, dan
apa yang terjadi pada bagian yang satu akan
mempengaruhi bagian yang lain. Pandangan holistik dalam kepribadian, yang
terpenting adalah :
a. Kepribadian normal ditandai dengan unitas,
integrasi, konsistensi, dan koherensi. Organisasi adalah keadaan normal dan
disorganisasai adalah keadaan patologis (sakit).
b. Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap
bagiannya, tetapi tidak ada bagian yang dapat dipelajari dalam isolasi.
c. Organisme memiliki suatu dorongan yang berkuasa,
yaitu aktualisasi diri.
d. Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan
normal bersifat minimal. Potensi organisme jika bisa terkuak di lingkungan yang
tepat akan menghasilkan kepribadian yang sehat dan integral.
e. Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang
lebih berguna dari pada penelitian ekstensif terhadap banyak orang mengenai
fungsi psikologis yang diisolasi.
2. Individu adalah penentu bagi tingkah laku dan
pengalamannya sendiri.
Manusia adalah agen yang sada, bebas memilih atau
menentukan setiap tindakannya. Dengan kata lain manusia adalah makhluk yang
bebas dan bertanggung jawab.
3. Manusia tidak pernah diam, tetapi selalu dalam
proses untuk menjadi sesuatu yang lain dari sebelumnya (becoming).
Namun demikian perubahan tersebut membutuhkan
persyaratan, yaitu adanya lingkungan yang bersifat mendukung.
4. Individu sebagai keseluruhan yang integral, khas,
dan terorganisasi.
5. Manusia pada dasarnya memiliki pembawaan yang baik
atau tepatnya netral.
Kekuatan jahat atau merusak pada diri manusia
merupakan hasil atau pengaruh dari lingkungan yang buruk, dan bukan merupakan
bawaan.
6. Manusia memiliki potensi kreatif yang mengarahkan
manusia kepada pengekspresian dirinya menjadi orang yang memiliki
kemampuan atau keistimewaan dalam bidang tertentu.
7.Self-fulfillment merupakan tema utama dalam hidup manusia.
8. Manusia memiliki bermacam-macam kebutuhan yang
secara hirarki dibedakan menjadi sebagai berikut (Boeree, 2004)
(1)kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the
physiological needs)
(2)kebutuhan akan rasa aman (the safety and
security needs)
(3) kebutuhan akan cinta dan memiliki (the love and
belonging
needs)
(4)kebutuhan akan harga diri (the esteem needs)
(5)kebutuhan
akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
G.
Pendapat Fromm
Fromm melihat kepribadian hanya
sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percayabahwa kesehatan jiwa
harus di definisikan menurut bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri
dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurutbagaimana baiknya
individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat. Karena itu kesehatan
psikologis tidak begitu banyak merupakan usaha masyarakat.
Faktor kunci ialah bagaimana suatu masyarakat
memuaskan secukupnya kebutuhan-kebutuhan manusia.
Sebagai hasil
perkembangan dari analisis-analisis historisnya, Fromm melukiskan hakikat
keadaan manusia sebagai kesepian dan ketidakberartian. Menurut Fromm, kita
adalah makhluk yang unik dan kesepian. Sebagai akibat evolusi kita dari
binatang-binatang yang lebih rendah, kita tidak lagi bersatu dengan alam, kita
telah mengatasi alam. Tidak sepertitingkah laku binatang, tingkah laku kita
tidak terikat pada mekanisme-mekanisme instinktif.Akan tetapi perbedaan yang
sangat penting antara manusia dan binatang yang lebih rendah terletak
pada kemampuan kita akan kesadaran diri, pikiran, dan
khayal. Kita mengetahui bahwa kita akhirnya tidak berdaya, kita
akan mati, dan terpisah dari alam. Fromm mengemukakan lima kebutuhan
yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan diantaraya:
“Hubungan,
Trasendensi. Berakar, Perasaan
id entitas, Kerangka orientasi”
Secara singkat, teori kepribadian yang digagas Fromm
sebagai berikut :
a. Kebebasan manusia yang semakin
luas, menempatkan manusia merasa semakin kesepian, dengan kata lain kebebasan
menjadikan keadaan yang negatif dimana manusia-manusia melarikan diri
(Fromm,1941 dalam Supardan,2008:489)
b. Manusia selalu berusaha memecahkan
kontradiksi-kontradiksi yang ada padanya. Maksudnya bahwa seorang pribadi
merupakan bagian,sekaligus terpisah dari alam ; merupakan binatang, sekaligus
manusia.
c. aspek individu, yakni aspek binatang dan aspek
manusia merupakan kontradiksi-kontradiksi dasar eksistensi manusia, yang
berasumsi bahwa ; “Pemahaman tentang psikhe
manusia harus berdasarkan manusia tentang kebutuhan manusia yang berasal
dari kondisi-kondisi eksistensinya (Fromm,1955 dalam Supardan,2008:489)
d. kepribadian orang akan berkembang menurut
kesempatan yang diberikan kepadanya oleh masyarakat tertentu.
e. sebagai manusia tidak lepas dari pasangan tipe
karakter nekrofilus dan biofilus. Nekrofilus adalah orang yang tertarik pada kematian, sedangkan biofilus adalah orang yang mencintai
kehidupan.
f. sekarang ini lima tipe masyarakat sudah demikian
menggejala, berbeda dengan masa-masa sebelumnya, seperti reseptif,
eksploitatif, penimbunan, pemasaran, dan produktif.
Daftar Pustaka :
1. Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma
2. Koeswara, E.(2001). Teori-teori
Kepribadian. Bandung Eresco.
3. Lindsay,Gardner. Editor: Sugiyono. 1993. Psikologi
Kepribadian 3 Teori-Teori Kepribadian dan Behavioristik. Kanisius :
Yogyakarta
4. Riyanti,Dwi B.P., Prabowo, Hendro. (1998). Seri diktat kuliah psikologi umum 2. Depok
: Universitas Gunadarma

0 komentar:
Posting Komentar