Nama : Citra Siti Aisyah
Kelas : 3PA17
NPM : 12514445
A.
CONTROLLING FUNGSI MANAJEMEN
1. Pengertian dari controlling Fungsi Manajemen
Dalam berbagai pengertian tentang
fungsi manajemen disebutkan bahwa pengendalian (controlling) merupakan salah satu fungsi manajemen. Pengendalian terdiri
atas pemeriksaan dan tindak lanjut, penjabarannya adalah pemeriksaan akan menghasilkan temuan yang memerlukan tindak
lanjut. Apabila tidak lanjut dilaksanakan, maka seluruh kerangka kegiatan
pemeriksaan dinamakan pengendalian. Baik pengawasan atau pengendalian masing-masing mempunyai tujuan, tujuan pengawasan
adalah untuk memberikan infromasi kepada
manajemen guna terciptanya suatu kegiatan kerja yang dapat dipertanggung
jawabkan tingkat kesesuaian, kewajaran, dan keamanannya. Sedangkan apabila
pengendalian maka tujuannya ditambah untuk membantu manajemen dalam mencapai
tujuan organisasi.
Menurut Harold Koontz, pengendalian adalah pengukuran dan
koreksi kinerja dalam rangka untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan perusahaan
dan rencana yang dirancang untuk mencapainya tercapai.
2.
Penjelasan langkah-langkah CONTROLLING
Fungsi Manajemen
Mochler dalam Stoner James, A. F.
(1988) menetapkan empat langkah dalam proses pengendalian, yaitu sebagai
berikut:
1. Menetapkan standar dan
Metode Mengukur Prestasi Kerja
Standar yang dimaksud adalah
criteria yang sederhana untuk prestasi kerja, yakni titik-titik yang terpilih
didalam seluruh program perencanaan untuk mengukur prestasi kerja tersebut guna
memberikan tanda kepada manajer tentang perkembangan yang terjadi dalam
perusahaan itu tanpa perlu mengawasi setiap langkah untuk proses pelaksanaan
rencana yang telah ditetapkan.
2.
Melakukan Pengukuran Prestasi
Kerja
Pengukuran prestasi kerja idealnya
dilaksanakan atas dasar pandangan kedepan, sehingga penyimpangan-pennyimpangan
yang mungkin terjadi ari standar dapat diketahui lebih dahulu.
3. Menganalisis Apakah Prestasi Kerja
Sesuai dengan Standar
Yaitu dengan membandingkan hasil
pengukuran dengan target atau standar yang telah ditetapkan. Bila prestasi sesuai dengan
standar manajer akan menilai bahwa segala sesuatunya beda diluar kendali.
4. Mengambil
Tindakan Korektif
Proses pengawasan tidak lengkap bila
tidak diambil tindakan untuk membetulkan penyimpangan yang terjadi. Apabila
prestasi kerja diukur dalam standar, maka pembetulan penyimpangan yang terjadi
dapat dipercepat, karena manajer sudah mengetahui dengan tepat, terhadap bagian
mana dari pelaksanaan tugas oleh individu atau kelompok kerja, tindakan koreksi
itu harus dikenakan.
3. Tipe-tipe dalam
Controlling Fungsi manajemen
Ada
tiga tipe dasar dalam controlling (pengawasan) yaitu :
a. Pengawasan
Pendahuluan (Feedforward Control)
Pengawasan
ini sering disebut juga dengan Steering Control. Ini dirancang untuk
mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan dari standar dan
tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap diselesaikan
(kegiatan belum dilaksanakan).
b. Pengawasan
Concurrent
ngawasan
concurrent maksudnya pengawasan yang dilakukan bersamaan dengan melakukan kegiatan. Pengawasan ini sering
disebut pengawasan “ Ya-Tidak “, screening control, “berhenti terus” dilakukan
selama suatu kegiatan berlangsung.
c. Pengawasan
Umpan Balik (Feedback Control)
Pengawasan ini bias juga dikenal sebagai “Past-Action Control” yang
mengukur hasil
dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan dan pengukuran ini dilakukan
setelah ke
giatan terjadi.
Ketiga bentuk pengawasan ini sangat
berguna bagi manajemen karena memungkinkan
manajemen membuat tindakan koreksi dan tetap dapat mencapai tujuan.
4. Strategi Controlling untuk sebuah organisasi
Pada Management By Exception (MBE) seorang manajer untuk
dapat melakukan pengendalian atas bagian yang menjadi tanggungjawabnya harus
didukung oleh tersedianya :
1.
Informasi
mengenai apa yang telah dan sedang dicapai pada unit kerjanya.
2.
Standar
kinerja yang dapat menunjukkan apa yang harus dicapai oleh unit kerjanya.
Standar yang dikombinasikan dengan output informasi misalnya
laporan penjualan maka memungkinkan terjadinya Management By Exception. MBE
adalah gaya atau tindakan yang dilakukan manajer apabila terjadi
letidalsesuaian antara Kinerja Aktual( apa yang telah dan sedang dicapai )
dengan Standar Kinerja ( apa yang harus dicapai).
Contoh :
Contoh :
· Seorang
manajer menetukan bahwa jumlah produksi Susu Bantal Real Good dalam sehari
harus ada 50.000 bungkus sampai 75.000 bungkus. Karena suatu waktu dimana saat
kapasitas tenaga kerja lebih banyak bekerja (lembur) maka jumlah produksi Susu
Bantal Real Good meningkat drastis menjadi 94.000 bungkus hari itu. Maka
saatnya MBE beraksi. Manajer memikirkan dan mengambil keputusan yang harus
dilakukan oleh kelebihan produksi.
· Keputusan
yang dapat diambil antara lain:
1. Menyimpan sisa
produksi susu bantal di gudang untuk persediaan stock.
2. Menjual kepada agen
atau eceran terdekat dengan harga yang terjangkau.
3. Mempromosikan untuk
penjualan sebagai hadiah atau sampel.
Dalam mengambil keputusan manajer harus diperhitungkan :
1.
Manajer
tidak membuang waktu memantau aktivitas yang berlangsung secara normal
2.
Keputusan
dapat lebih terfokus pada hal hal yang lebih memerlukan perhatian.
3.
Perhatian
dipusatkan pada peluang-peluang maupun hal hal yang berjalan
B. KEKUASAAN
& PENGARUH
1.
PENGERTIAN KEKUASAAN
Pengertian
kekuasaan (power) dalam pendidikan
ternyata mempunyai konotasi yang berbeda dengan
pengertian kekuasaan sebagaimana yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dapat kita bedakan
antara jenis kekuasaan :
a. Kekuasaan yang transformative
b. Kekuasaan yang berfungsi sebagai
transmitif
Kekuasaan dalam pendidikan adalah
bersifat kekuasaan transformatif, yang mempunyai tujuan yaitu dalam proses
terjadinya hubungan kekuasaan tidak ada bentuk subordinasi antara subjek dengan
subjek lain.
Kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau
kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang
diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh
atau kemampuan seseorang atau kelompok
lain sesuai dengan keinginan dari perilaku (Miriam
Budiardjo,2002)
2.
SUMBER KEKUASAAN
Kekuasaan
tidak begitu saja diperoleh individu, ada 5 sumber kekuasaan
menurut John Brench dan Bertram Raven, yaitu
:
1. Kekuasaan menghargai (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang pemberi pengaruh untuk memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk melaksanakan perintah. (bonus sampai senioritas atau persahabatan)
2. Kekuasaan memaksa (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk menghukum orang yang dipengaruhi kalau tidak memenuhi perintah atau persyaratan. (teguran sampai hukuman).
3. Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang timbul dari pengakuan seseorang yang dipengaruhi bahwa pemberi pengaruh berhak menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.
4. Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan yang didasarkan pada persepsi atau keyakinan bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian relevan atau pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. (professional atau tenaga ahli).
5. Kekuasaan rujukan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan pada indentifikasi pemberi pengaruh yang menjadi contoh atau panutan bagi yang dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).
1. Kekuasaan menghargai (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang pemberi pengaruh untuk memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk melaksanakan perintah. (bonus sampai senioritas atau persahabatan)
2. Kekuasaan memaksa (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk menghukum orang yang dipengaruhi kalau tidak memenuhi perintah atau persyaratan. (teguran sampai hukuman).
3. Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang timbul dari pengakuan seseorang yang dipengaruhi bahwa pemberi pengaruh berhak menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.
4. Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan yang didasarkan pada persepsi atau keyakinan bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian relevan atau pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. (professional atau tenaga ahli).
5. Kekuasaan rujukan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan pada indentifikasi pemberi pengaruh yang menjadi contoh atau panutan bagi yang dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).
3.
PENGERTIAN PENGARUH
Pengaruh adalah
suatu tipe kekuasaan yang jika seseorang dipengaruhi agar bertindak dengan cara
tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman
sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya. Pengruh biasanya
tidak merupakan satu-satunya factor yang menentukan perilaku seseorang, dan
sering bersaing dengan factor lain. Bagi pelaku yang dipengaruhi masih terbuka alternatif
lain untuk bertindak. Akan tetapi, sekalipun pengaruh sering kurang efektif
dibandingkan dengan kekuasaan, ia kadang-kadang mengandung unsur psikologis dan
menyentuh hati, dan karena itu sering kali cukup berhasil.
4.
PENGARUH TAKTIK DALAM ORGANISASI
Kipnis dan Schmidt adalah peneliti yang
pertama kali meneliti taktik-taktik yang biasa digunakan orang untuk
mempengaruhi orang lain. (Kipnis dan Schmidt, 1982). Berbagai alat ukur telah
dibuat untuk meneliti taktik mempengaruhi, dan salah satu yang terbaik adalah
yang dibuat oleh Yukl dkk, yaitu yang disebut Influence Behavior Questionnaire
(Yukl, Lepsinger, and Lucia, 1992). Hasil penelitian Yukl dkk, menun-jukkan ada
sembilan jenis taktik yang biasa digunakan di dalam organisasi (Hugheset all,
2009), yaitu:
·
Persuasi Rasional (Rational Persuasion), terjadi jika seseorang
mempengaruhi orang lain dengan menggunakan alasan yang logis dan bukti-bukti
nyata agar orang lain tertarik.
·
Daya-tarik Inspirasional (Inspirational Appeals), terjadi jika
seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan suatu permintaan atau
proposal untuk membangkitkan antusiasme atau gairah pada orang lain.
·
Konsultasi (Consultation), terjadi jika seseorang mempengaruhi
orang lain dengan mengajak dan melibatkan orang yang dijadikan target untuk
berpartisipasi dalam pembuatan suatu rencana yang akan dilaksanakan.
·
Mengucapkan kata-kata manis (Ingratiation), terjadi jika
seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan kata-kata yang
membahagiakan.
·
Daya-tarik Pribadi (Personal Appeals), terjadi jika seseorang
mempengaruhi orang lain atau memintanya untuk melakukan sesuatu karena
merupakan teman atau karena dianggap loyal.
·
Pertukaran (Exchange), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang
lain dengan memberikan sesuatu keuntungan tertentu kepada orang yang dijadikan
target, sebagai imbalan atas kemauannya mengikuti suatu permintaan tertentu.
·
Koalisi (Coalitions), terjadi jika seseorang meminta bantuan dan
dukungan dari orang lain untuk membujuk agar orang yang dijadikan target
setuju.
·
Tekanan (Pressure), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang
lain dengan menggunakan ancaman, peringatan, atau permintaan yang
berulang-ulang dalam meminta sesuatu.
·
Mengesahkan (Legitimacy), terjadi jika seseorang mempengaruhi
orang lain dengan menggunakan jabatannya, kekuasaannya, atau dengan mengatakan
bahwa suatu permintaan adalah sesuai dengan kebijakan atau aturan organisasi.
5. Kasus tentang kekuasaan dan pengaruh pada sebuah organisasi,
berikan saran !
Kekuasaan :
Konflik
Buruh Dengan PT Megariamas, Sekitar 500 buruh yang tergabung dalam
Serikat Buruh Garmen Tekstil dan Sepatu-Gabungan Serikat Buruh Independen
(SBGTS-GSBI) PT Megariamas Sentosa, Selasa (23/9) siang ‘menyerbu’ Kantor Sudin
Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Jakarta Utara di Jl Plumpang Raya,
Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Mereka menuntut
pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan yang mempekerjakan
mereka karena mangkir memberikan tunjangan hari raya (THR). Ratusan
buruh PT Megariamas Sentosa yang berlokasi di Jl Jembatan III Ruko 36 Q, Pluit,
Penjaringan, Jakut, datang sekitar pukuk 12.00 WIB. Sebelum ditemui Kasudin
Nakertrans Jakut, mereka menggelar orasi yang diwarnai aneka macam poster yang
mengecam usaha perusahaan menahan THR mereka. Padahal THR merupakan kewajiban
perusahaan sesuai dengan ketentuan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga
Kerja No. 4/1994 tentang THR.
“Kami menuntut hak kami untuk mendapatkan THR
sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dan jangan dikarenakan ada konflik
internal kami tidak mendapatkan THR, karena setahu kami perusahaan garmen
tersebut tidak merugi, bahkan sebaliknya. Jadi kami minta pihak Sudin
Nakertrans Jakut bisa memfasilitasi kami,” jelas Abidin, koordinator unjuk rasa
ketika berorasi di tengah-tengah rekannya yang didominasi kaum perempuan itu,
Selasa (23/9) di depan kantor Sudin Nakertrans Jakut. Sekedar diketahui ratusan
buruh perusahaan garmen dengan memproduksi pakaian dalam merek Sorella, Pieree
Cardine, Felahcy, dan Young Heart untuk ekspor itu telah berdiri sejak 1989 ini
mempekerjakan sekitar 800 karyawan yang mayoritas perempuan.
Demonstrasi ke Kantor Nakertrans bukan yang
pertama, sebelumnya ratusan buruh ini juga mengadukan nasibnya karena perusahan
bertindak sewenang-wenang pada karyawan. Bahkan ada beberapa buruh yang
diberhentikan pihak perusahaan karena dinilai terlalu vokal. Akibatnya, kasus
konflik antar buruh dan manajemen dilanjutkan ke Pengadilan Hubungan
Industrial. Karena itu, pihak manajemen mengancam tidak akan memberikan THR
kepada pekerjanya.
Mengetahui
hal tersebut, ratusan buruh PT Megariamas Sentosa mengadu ke kantor Sudin
Nakertrans Jakut. Setelah dua jam menggelar orasi di depan halaman Sudin
Nakertrans Jakut, bahkan hendak memaksa masuk ke dalam kantor. Akhirnya
perwakilan buruh diterima oleh Kasudin Nakertrans, Saut Tambunan di ruang rapat
kantornya. Dalam peryataannya di depan para pendemo, Sahut Tambunan berjanji
akan menampung aspirasi para pengunjuk rasa dan membantu menyelesaikan
permasalahan tersebut. "Pasti kami akan bantu, dan kami siap untuk menjadi
fasilitator untuk menyelesaikan masalah ini," tutur Sahut. Selain
itu, Sahut juga akan memanggil pengusaha agar mau memberikan THR karena itu
sudah kewajiban. “Kalau memang perusahaan tersebut mengaku merugi, pihak
manajemen wajib melaporkan ke pemerintah dengan bukti konkret,” kata Saut
Tambunan kepada beritajakarta.com usai menggelar pertemuan dengan para
perwakilan demonstrasi.
Sesuai peraturan, karyawan dengan masa kerja
di atas satu tahun berhak menerima THR. Sementara bagi karyawan dengan masa
kerja di bawah satu tahun di atas tiga bulan, THR-nya akan diberikan secara
proporsional atau diberikan sebesar 3/12X1 bulan gaji. Karyawan yang baru
bekerja di bawah tiga bulan bisa daja dapat tergantung dari kebijakan
perusahaan.
Saut
menambahkan, sejauh ini sudah ada empat perusahaan yang didemo karena mangkir
membayar THR. “Sesuai dengan peraturan H-7 seluruh perusahaan sudah harus
membayar THR kepada karyawannya. Karena itu, kami upayakan memfasilitasi. Untuk
kasus karyawan PT Megariamas Sentosa memang sedang ada sedikit permasalahan
sehingga manajemen sengaja menahan THR mereka. Namun, sebenarnya itu tidak
boleh dan besok kami upayakan memfasilitasi ke manajemen perusahaan.
Lebih lanjut dikatakannya, untuk kawasan
Jakarta Utara tercatat ada sekitar 3000 badan usaha atau perusahaan di sektor
formal. Untuk melakukan monitoring, pihaknya menugaskan 15 personel pengawas
dan 10 personel mediator untuk menangani berbagai kasus seperti kecelakaan
kerja, pemutusan hubungan kerja, tuntutan upah maupun upah normatif dan THR.
“Kami masih kekurangan personel, idealnya ada 150 personel pengawas dan 100
personel mediator,” tandas Saut Tambunan.
Saran : seharusnya pihak perusahaan harus adil dengan
karyawan yang bekerja di perusahaannya, berikanlah tunjangan yang memang
seharusnya menjadi hak para pegawai yang bekerja keras di perusahaan tersebut
demi keluarga dirumah.
Sumber :
Arifin, Imamul., Wagiana, Giana,H. (2007). Membuka cakrawala ekonomi untuk
kelas
XII sekolah menengah atas / madrasah aliyah. Bandung : PT. Setia
Purna Inves
Duha,Timotius. (2016). Perilaku
organisasi. Yogyakarta : Deepublish
Stoner,
J.A.F., Freeman, R.E., Gilbert Jr, D.R., (1995). Manajemen: jilid I. Jakarta: Prenhallindo.
Tilaar
H.A.R (2003). Kekuasaan dan pendidikan.
Magelang : IndonesiaTera Anggota
IKAPI


