Minggu, 15 Januari 2017

Tugas Psikologi Manajemen Ke-4

I.                   Empowerment, Stres, dan Konflik

A.    Pengertian Empowerment

◊ Pemberdayaan (empowerment) merupakan central theme atau jiwa partisipasi yang sifatnya aktif-kreatif. Pemberdayaan merupakan proses perincian (breakdown) dari hubungan atau relasi antara subjek dan objek (termasuk dikotomi laki-laki & perempuan)
Richard Carver, Managing Director dari Coverdale Organization mendefinisikan empowerment sebagai mendorong dan membolehkan seseorang untuk mengambil tanggung jawab secara pribadi untuk meningkatkan atau memperbaiki cara-cara menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat meningkatkan kontribusi dalam pencapaian sasaran organisasi. Empowerment memerlukan penciptaan budaya yang mendorong pegawai dalam setiap tingkatan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dan membantu pegawai untuk percaya diri dan kemampuan untuk melakukan perubahan.
B.     ● Pengertian Stres
◊ Mengutip penegrtian stres dari Handoko (1993), stress merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressor.
◊ Hans Selye seorang ilmuan dari Kanada, dalam bukunya The Stress of Live, yang mendefinisikan stress sebagai respon yang tidak spesifik dari tubuh terhadap tuntutan yang diterimanya. Definisi sederhana ini menghubungkan komponen dari stress, yaitu antara tuntutan (bersifat eksternal) dan respon atau tanggapan (bersifat internal).
● Sumber Stres
Menurut Robins (1996 :224) sumber stres yang potensial adalah sebagi berikut :
1.       Faktor lingkungan, meliputi :
     Ketidakpastian ekonomi, Ketidakpastian politik, Ketidakpastian    teknologi
2.      Faktor organisasi, meliputi :
Tuntutan tugas, Tuntutan peran, Tuntutan antar pribadi, Struktur organisasi, Kepemimpinan organisasi, Tahapan hidup organisasi
3.      Faktor individual, meliputi :
      Masalah keluarga, Masalah ekonomi, Kepribadian
      Menurut Grant Brecht (2000), penyebab dari stress dibedakan menjadi dua
      macam :
a. Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam    kehidupan,seperti  kematian, perceraian, pension, luka batin, dan kebangkrutan.
b.  Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari,  seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akandimakan, dan antri.
C.  ● Pengertian Konflik :
     ◊ konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang, dua kelompok,atau lebih yang
                     salah satu pihaknya berupaya menyingkirkan yang lain dengan menghancurkan atau
                     membuatnya tak berdaya.
                ◊ Soerjono Soekanto mengungkapkan bahwa konflik merupakan pertentangan untuk
                    berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lawan.
    ● Proses Konflik
                   Menurut Pondi, Proses terjadinya konflik sebagai berikut.
       1. Konflik Laten (Latent Conflict)
Konflik Laten merupakan tahap dari munculnya faktor-faktor penyebab konflik dalam organisasi. Bentuk-bentuk dasar dari situasi ini ialah persaingan untuk memperebutkan sumberdaya yang terbatas, konflik peran, persaingan perebutan posisi di dalam organisasi.
       2. Konflik Yang Dipersepsikan (Perceived Conflict)
Pada tahap ini salah satu pihak memandang pihak lain sebagai penghambat atau mengancam pencapaian tujuannya.
       3. Konflik Yang Dimanifestasikan (Manifest Conflict)
Pada tahap ini perilaku tertentu sebagai indikator konflik sudah mulai ditunjukkan, seperti adanya sabotase, agresi terbuka, konfrontasi, rendahnya kinerja dan lain sebagainya.
        4. Resolusi Konflik (Conflict Resolution)
Pada tahap ini konflik yang terjadi diselesaikan dengan berbagai macam cara dan pendekatan.
        5. Konflik Aftermath
Jika konflik sudah benar-benar diselesaikan maka hal itu akan meningkatkan hubungan para anggota organisasi. Hanya saja jika penyelesaian konflik tidak tepat, maka akan dapat menimbulkan konflik yang baru.

Menurut Smith, Proses terjadinya konflik sebagai berikut :
1. Tahap Antisipasi, yaitu merasakan munculnya gejala perubahan yang mencurigakan.
2. Tahap Menyadari, yaitu perbedaan mulai dieksepsikan dalam bentuk suasana yang tidak mengenakkan.
3. Tahap pembicaraan, yaitu pendapat-pendapat berbeda mulai bermunculan.
4. Tahap Perdebatan Terbuka, yaitu perbedaan pendapat mulai ditunjukkan dengan nyata dan terbuka.
5. Tahap Konflik Terbuka, yaitu masing-masing pihak berusaha memaksakan kehendaknya kepada pihak lain.
D. Kasus yang berkaitan Dengan Stres dan Konflik Pada Organisasi
Sebagai contoh Angela memandang dirinya sebagai seorang yang menyenangkan, tetapi karyawan yang lain memandang dari sisi jelek kepribadiannya. Rekan kerjanya adalah seorang teman baik Angela, menuduh Angela telah mencuri klien penting. Hubungannya semakin memburuk, rekan kerja Angela menyebarkan fitnah dan berita jelek. Angela mengadu, tetapi atasannya tidak memperhatikan pengaduannya. Rekan kerjanya akhirnya ditembak.  Peristiwa ini menggambarkan bagaimana kesalahpahaman dan perselisihan paham meluas menjadi konflik sosioemosional, yang mengakibatkan hasil negatif bagi organisasi. Konflik adalah tidak baik untuk bisnis, sebab berdampak pada keputusan pegawai dan konsentrasi dalam bekerja. Konflik sosioemosional menyebabkan frustasi, ketidakpuasan pekerjaan, dan stres. Dengan perkataan lain, konflik menunjukan peningkatan pergantian dan ketidakhadiran pegawai.
II.                Komunikasi Dalam Manajemen

A.    Pengertian Komunikasi
◊ Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, mengangkat bahu. Cara seperti ini disebut komunikasi nonverbal.
adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain dilingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat berhubungan dengan  orang lain dilingkungannya adalah komunikasi baik secara verbal maupun  non verbal    ( bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh suku bangsa).
       B. Proses Komunikasi
1.      Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide  untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan   dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan  atau diekspresikan  oleh pengirim pesan.  Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.

      Materi pesan dapat berupa :
a.       Informasi
b.      Ajakan
c.       Rencana kerja
d.      Pertanyaan dan sebagainya

2.      Simbol/ isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat       dipahami oleh  orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan  penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.

3.      Media/penghubung
Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar,  papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan  yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dsb.

4.      Mengartikan kode/isyarat
Setelah  pesan diterima  melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka  si penerima pesan  harus dapat mengartikan  simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti /dipahaminya.

5.      Penerima pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan  dari sipengirim  meskipun dalam bentuk code/isyarat  tanpa mengurangi arti pesan  yang dimaksud oleh pengirim

            C. Hambatan Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas   bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi  oleh perasaan atau situasi emosional.
● Hambatan dalam penyandian/simbol
Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti  lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
● Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi,  misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
● Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si  penerima
●  Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada  saat menerima  atau mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
●  Hambatan dalam memberikan  balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
2.       Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
3.       Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi  kadang-kadang mempunyai  arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima
4.      Hambatan Psikologis 
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim  dan penerima pesan.

D. Pengertian komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi yang mencakup    Componential dan Situasional
Komunikasi interpersonal adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. (Muhammad, 2005,p.158-159).
Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya (Mulyana, 2000, p. 73)
Menurut Effendi, komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antar komunikator dengan komunikan, dimana komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam upaya mengubah sikap, pendapat atau perilaku seseorang, karena sifatnya yang dialogis yaitu berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga. Pada saat komunikasi dilancarkan, komunikator mengetahui secara pasti apakah komunikasinya positif atau negatif, berhasil atau tidaknya. Jika ia dapat memberikan kesempatan pada komunikan untuk bertanya seluas-luasnya (Sunarto, 2003, p. 13).
Komunikasi interpersonal efektif dalam organisasi yang mencakup componential & situational, yaitu :
Komunikasi dalam organisasi atau perusahaan dapat menentukan efektif atau tidaknya dalam suatu penyampaian pesan atau perintah antar anggota organisasi, baik antara atasan dengan bawahan (downward communication), bawahan dengan atasan (upward communication), maupun antar anggota yang jabatannya setaraf (lateral communication). Secara sederhana, komunikasi adalah proses penyampaian atau transfer dan pemahaman suatu pengertian (meaning). Jadi dalam berkomunikasi, kita harus efektif menyampaikan pesan yang ada pada kita kepada orang lain. Adapun berkomunikasi secara langsung dan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Karena dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung. Proses berkomunikasi dimulai dari adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim, kemudian ditransfer melalui suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh penerima. Adapun komunikasi interpersonal efektif dalam suatu organisasi mencakup dua bagian yaitu componential dan situational.
1. Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2. Situasional
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

            E. Model pengolahan informasi dalam komunikasi yang mencakup Rational,
                 Limited Capacity, Expert, Cybernetic
                 1. Rational
Pemodelan secara visual  yang memiliki banyak kemampuan (powerful) untuk pembentukan sistem berorientasi obyek.
     2Limited capacity
Kapasitas pengolahan informasi yang terbatas kepada tujuan manipulasi sebuah subset informasi yang tersedia
     3.    Expert
          Keahlian dalam pengolahan informasi yang tersedia
     4. Cybernetic
          Teori sistem pengontrol yang didasarkan pada komunikasi (penyampaian  informasi) antara sistem dan lingkungan dan antar sistem, pengontrol (feedback) dari sistem berfungsi dengan memperhatikan lingkungan.
            F. Model interaktif manajemen dalam komunikasi yang mencakup Confidence
                Immediacy, Interaction Management, Expressiveness, Other-Orientation
Model Interaktif Manajemen adalah suatu cara atau teknik yang digunakan saat   menyajikan informasi secara interaktif. Adapun yang mencakup ke dalam model interaktif manajemen sebagai berikut: 
1.  Confidence 
     Adanya rasa nyaman dalam organisasi untuk berinteraksi. 
2. Immediacy 
Adanya kepercayaan yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan. 
      3. Interaction management  
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan. 
4.  Expressiveness 
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai   macam ekspresi perilaku. 
          5. Other-orientation 
  Dalam suatu manajemen organisasi berorientasi pada pegawai.  


            Referensi :

-          Dwidjowijoto, R.N., Wrihatnolo, R.R. (2007). Manajemen pemberdayaan.
        Jakarta : PT. Elex Media Komputindo
-          Hardjana, A.M. (2003). Komunikasi intrapersonal dan interpersonal. Yogyakarta :
        Kanisius
-          Soeharto, Iman. (2004). Penyakit jantung koroner dan serangan jantung. Jakarta :
         PT. Gramedia Pustaka Utama
-          Suranto. (2011). Komunikasi interpersonal. Yogyakarta : Graha Ilmu, Edisi Pertama
-          Umar, Husein. (2005). Riset sumber daya manusia. Jakarta :
         PT. Gramedia Pustaka Utama
-          http://amenaalatas.blogspot.co.id/2015/01/komunikasi-interpersonal-efektif.html

0 komentar:

Posting Komentar