Rabu, 29 Oktober 2014

Tugas Psikologi Umum Individu (Tokoh Psikologi Keluarga)




Biodata McGoldrick

      Monica McGoldrick, M.A., M.S.W., Ph.D. adalah pendiri dan direktur dari Multicultural Family Institute in Highland Park, New Jersey,dan asisten dosen di  Robert Wood Johnson Medical School.Ia lahir di Brooklyn, New York dan besar disana dan di Solebury Pennsylvania. Dia mengutamakan mempelajari bahasa rusia di Brown University dan mendapatkan gelar master dalam studi di Universitas Yale sebelum beralih ke pekerjaan sosial dan terapi keluarga,dan dia menerima MSW dan kemudian mendapatkan gelar kehormatan dari Smith  College School untuk pekerjaan sosial.
  Vidio klinisnya : Legacies kerugian dan Harnessing kekuatan genograms tersedia di www.psychoterapi.net. Bukunya mencakup Genograms kajian campur tangannya. Sebuah buku yang menjelaskan penggunaan dari pemetaan genogram terkenal dengan contoh dari Sigmund Freud ke Fondas dan Kennedys,genogram perjalanan,menghubungkan dengan keluarga anda. Sebuah buku yang mengkaji betapa pentingnya keluarga,jaringan untuk pembaca umum. Etnis dan keluarga terapi,sebuah buku yang membahas pola 51 budaya kelompok yang berbeda,diperluas kehidupan keluarga siklus,sebuah buku yang mengeksplorasi yang dapat dibaca di mode evolusi manusia melalui siklus hidup,yang tinggal diluar kerugian,buku tentang kesedihan dan berkabung, belum terselesaikan dan revesioning terapi keluarga dan ras budaya dan jenis kelamin,dalam kegiatan klinis yang menguraikan faktor sosial-budaya yang mempengaruhi keluarga dimasyarakat kita. 

Pembahasan dan yang dikembangkan

Carter dan McGoldrick (1980) menjelaskan bahwa tugas perkembangan utama dari dewasa muda yang belum kawin adalah “menerima keluarga asalnya” (hal. 13). Tiga tugas perkembangan yang dicantumkan oleh Carter dan McGoldrick (1988, hal. 15) :
  1. Pembedaan diri dalam hubungannya dengan keluarga asalnya.
  2. Menjalin hubungan dengan teman sebaya yang akrab.
  3. Pembentukan diri yang berhubungan dengan kemandirian pekerjaan dan finansial.

paradigma Carter dan McGoldrick merumuskan tahap siklus kehidupan keluarga yg berfokus pada hal – hal penting dimana anggota keluarga masuk / keluar dari keluarga, jadi mengganggu keseimbangan keluarga
Carter dan McGoldrick (1988, dalam Santrock, 2004) yang jadi acuan para psikolog keluarga berikut ini:
1. Tahap ‘Meninggalkan Rumah dan Menjadi Individu Dewasa Lajang’. Tahap ini tidak selalu terjadi di budaya kita, karena banyak orang dewasa memilih tinggal di rumah orangtuanya. Yang pasti, ketika sudah mulai kuliah, biasanya seseorang jadi jauh lebih mandiri dibandingkan usia sebelumnya. Yang cukup banyak terjadi di budaya kita adalah beberapa individu dewasa yang sudah memiliki penghasilan ikut membayar beberapa pengeluaran di rumah, sementara yang belum punya penghasilan membantu mengurus rumah. Kemandirian ini (mulai melepas pengaruh orangtua) penting lho dalam tahapan hidup berkeluarga. Justru mereka yang masih terlalu tergantung pada orangtuanya di tahap ini (misalnya masih terus mengharap dibayari oleh orangtua) seringkali mengalami masalah dalam kehidupan berkeluarganya kelak.
2. Tahap ‘Pasangan Baru’. Tahap ini terjadi di bulan-bulan pertama pernikahan. Pada tahap ini terjadi beberapa perubahan peran, mulai dari sepasang kekasih menjadi suami dan istri. Dalam budaya kita, kebanyakan orang sudah menyadari bahwa ketika menikah, dia juga harus menyesuaikan diri dengan keluarga besar pasangan. Pada tahap ini biasanya individu yang menikah mengubah beberapa perilakunya sehingga sesuai dengan pasangannya. Contohnya apabila biasanya ia pulang dari kantornya sesukanya, kini mungkin ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat agar bisa segera pulang. Contoh lain adalah mereka yang kemudian jadi punya kebiasaan baru untuk memasak sarapan. Beberapa pertengkaran besar mungkin terjadi pada tahap ini karena baik suami dan istri sedang berusaha menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai suami / istri, juga sebagai menantu, dan bagian baru dari lingkungan pasangan. Berbagai pembelajaran juga terjadi pada saat ini, terutama kalau pasangan bisa bertengkar dengan cara yang baik.
3. Tahap ‘Menjadi Orangtua’. Banyak yang mengatakan bahwa tahap ini terjadi setelah anak lahir. Kenyataannya tahap ini sudah terjadi sejak pasangan menyadari kehamilan sang istri. Bukankah setelah sadar hamil, maka mulai ada beberapa perubahan perilaku, seperti usaha menjaga asupan makanan, istirahat lebih banyak, pemeriksaan kehamilan, juga membeli barang yang akan digunakan untuk anak kelak? Tahap ini terjadi setidaknya sampai anak memasuki masa remajanya. Sampai pada tahap itu idealnya pasangan yang kini menjadi orangtua memiliki visi dan misi yang sejalan dan dapat saling mendukung, karena inilah yang akan membuat anak tumbuh dan berkembang optimal. Kenyataannya banyak pasangan yang justru mengalami pertengkaran terhebatnya pada tahap ini, karena berbagai kelemahan personal dan ketidaksiapannya menjadi orangtua. Pada budaya kita, keluarga besar seringkali punya peran pula dalam tahap ini, dan tantangan ini harus disikapi secara tepat.
4. Tahap ‘Keluarga dengan Remaja’. Ini merupakan salah satu tahap yang paling menantang dalam kehidupan berkeluarga. Anak yang tadinya penurut cenderung jadi remaja tak penurut, dan ini merupakan perkembangan normal. Anak yang sebelumnya sulit diatur, jadi remaja yang jauh lebih sulit diatur. Orangtua yang sudah terbiasa mengatur dengan cara yang telah berhasil pada tahap sebelumnya cenderung mengalami kesulitan, dan tentu saja ini jadi tantangan tersendiri dalam hidup bersama pasangan. Apabila pasangan memang betul-betul siap dan trampil menjadi pasangan dan menjadi orangtua, tantangan besar ini akan lebih mudah dihadapi.
5. Tahap ‘Keluarga dengan Anak Dewasa’, artinya anak yang mereka besarkan saat ini sudah menjadi dewasa mandiri. Anak dari pasangan ini mungkin sudah atau belum menikah, tapi belum punya keturunan. Beberapa pasangan merasa lebih dekat satu sama lain di tahap ini, karena masa-masa mengasuh anak telah mereka lewati bersama. Beberapa pasangan lain justru menjadi asing satu sama lain, terutama mereka yang pada tahap-tahap sebelumnya kurang memahami cara berkomunikasi yang hangat.
6. Tahap ‘Keluarga di Masa Pensiun’. Pensiun mengubah cara hidup keluarga, biasanya karena tanggung jawab untuk bekerja dan penghasilan menjadi sangat berkurang dibandingkan sebelumnya. Selain itu terjadi pula perubahan fisik, beberapa orang mengalami sakit berkepanjangan dan butuh beraneka perawatan. Cucu yang telah dilahirkan anak mereka juga menjadikan pasangan sebagai nenek dan kakek, dan ini membedakan pula kondisi psikologis mereka. Meninggalnya pasangan menjadikan individu sebagai janda / duda, dan ini adalah tantangan tersendiri.
Tahap-tahap ini terjadi pada sebagian besar keluarga. Apabila ada yang terlewat (contohnya tidak mengalami tahap ‘Pasangan Baru’ karena terlanjur hamil sebelum menikah), maka pasangan ini harus bekerja lebih keras untuk membuat pernikahannya bahagia. Dalam tiap tahap pun ada cara-cara yang berbeda untuk mengatasi permasalahan yang dialami. Jika pasangan lebih suka menyalahkan satu sama lain dibandingkan bekerja keras bersama, tentu saja yang didapatkan adalah masalah lebih besar, bukan kebahagiaan.
McGoldrick (1988) memberikan sebuah deskripsi yang amat bagus tentang proses ini dan masalah-masalah psikososial selama masa ini. Banyak pasangan mengalami masalah-masalah penyesuaian seksual, serikali disebabkan oleh ketidaktahuan dan informasi yang salah yang mengakibatkan kekecewaan dan harapan-harapan yang tidak realistis. Malahan, banyak pasangan yang membawa kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi kedalam hubungan mereka, dan hal-hal ini dapat mempengaruhi hubungan seksual secara merugikan. (Goldenberg dan Goldenberg, 1985).

Menurut Carter dan MCGoldrick mengatakan sistem keluarga sekurang-kurangnya tiga generasi :
Ø  Kakek-Nenek
Ø  Ayah-Ibu
Ø  Anak-anak
Refrensi








0 komentar:

Posting Komentar